Belajar Kendang Sunda dari Bunyi, Gerak, dan Notasi

BOGOR — Belajar musik tradisional bisa dimulai dari hal yang paling dekat, yakni mendengar bunyi, memperhatikan gerak tangan, lalu mencoba menirukannya. Cara belajar seperti itu berlangsung di Sanggar Sunda Kancana, Kabupaten Bogor, melalui Pelatihan Dasar Praktik Kendang Sunda dengan metode notasi khas kendang Sunda. Para peserta mendengarkan contoh permainan, mengenali bunyi kendang, mencoba pola pukulan, lalu membaca kembali pola tersebut melalui notasi. Kegiatan ini menjadi bagian dari Pengabdian Wilayah Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta Tahun 2026.

Pelatihan melibatkan Tuteng Suwandi, S.Kar., M.Pd. dan Ojang Cahyadi, S.Sn., M.Pd. sebagai tim pelaksana. Ganjar Cahyana hadir sebagai mitra pengabdian dari Sanggar Sunda Kancana. Para peserta berasal dari lingkungan sanggar yang telah akrab dengan berbagai bentuk kesenian Sunda. Kedekatan itu membuat proses belajar berlangsung lebih cair karena peserta sudah memiliki pengalaman mendengar dan melihat praktik seni tradisi dalam kehidupan sehari-hari.

Bunyi menjadi pintu pertama dalam pembelajaran kendang Sunda. Peserta mendengar perbedaan suara yang muncul dari bagian-bagian kendang dan cara tangan menyentuh permukaannya. Setelah itu, peserta mengamati gerak tangan pelatih, meniru teknik pukulan, lalu mencoba menyusun beberapa bunyi menjadi pola. Setiap pukulan berkaitan dengan posisi tangan, kekuatan sentuhan, tempo, dan karakter suara yang dihasilkan.

Cara belajar semacam ini sudah lama hidup dalam pewarisan musik tradisional. Seorang pemain biasanya belajar dengan menyimak permainan orang lain, mengingat pola, lalu mengulanginya sampai tubuh terbiasa mengikuti bunyi. Dalam pelatihan ini, kebiasaan tersebut dipertemukan dengan notasi khas kendang Sunda. Notasi membantu peserta mengenali urutan pukulan dan menyimpan pola permainan dalam bentuk yang dapat dibaca kembali.

Kehadiran notasi membuat peserta melihat hubungan antara tanda, gerakan, dan bunyi. Sebuah simbol merujuk pada jenis pukulan tertentu, sementara pukulan itu menghasilkan karakter suara yang dapat dibedakan. Peserta membaca tanda, mengingat gerak tangan, lalu mencocokkan bunyi yang keluar dari kendang. Dengan cara itu, notasi membantu peserta menata pengalaman musikal yang sebelumnya hanya disimpan melalui ingatan.

See also  Kenapa Abu Vulkanik Bisa Membuat Bandara Berhenti?

Latihan dilakukan secara bertahap. Pelatih memberi contoh, peserta mengikuti, lalu pola dimainkan kembali secara bersama-sama. Ketika bunyi yang muncul belum sesuai, peserta mengulang posisi tangan dan kekuatan pukulan. Koreksi berlangsung melalui perbandingan antara bunyi contoh dan bunyi yang dihasilkan peserta.

Suasana sanggar membuat proses belajar terasa akrab. Peserta dapat bertanya, mencoba kembali, dan memperhatikan permainan peserta lain tanpa jarak yang terlalu formal. Seseorang yang lebih cepat mengenali pola dapat membantu peserta lain, sedangkan pelatih tetap menjaga arah latihan. Sanggar pun menjadi tempat berlatih sekaligus ruang berbagi pengalaman.

Melalui pelatihan ini, kendang dipahami lebih jauh daripada sekadar alat pengiring. Di dalam permainannya terdapat pola ritmis, aksen, perubahan dinamika, dan hubungan dengan struktur musikal lain. Pemain perlu mendengar keseluruhan permainan sambil menjaga ketepatan pukulan. Kemampuan itu tumbuh melalui latihan yang mempertemukan pendengaran, ingatan, tubuh, dan pembacaan simbol.

Notasi juga membantu menjaga pengetahuan yang selama ini diwariskan secara lisan. Peserta memiliki catatan yang dapat dipelajari kembali setelah latihan selesai. Namun, proses mendengar, meniru, dan merasakan bunyi tetap menjadi bagian utama. Notasi hadir sebagai pendamping agar pola permainan lebih mudah diingat dan dipelajari kembali.

Hubungan antara perguruan tinggi dan Sanggar Sunda Kancana membuat pengetahuan bergerak melalui pertemuan dua pengalaman. Tim dari Fakultas Bahasa dan Seni UNJ membawa metode pembelajaran yang lebih terstruktur. Sanggar menyediakan lingkungan budaya dan praktik musikal yang hidup di tengah masyarakat. Keduanya bertemu dalam proses belajar yang tetap berpijak pada bunyi dan pengalaman langsung.

Belajar kendang Sunda akhirnya mencakup banyak hal sekaligus. Peserta belajar mendengarkan, mengingat, membaca, mencoba, dan memperbaiki bunyi yang dihasilkan. Gerak tangan menjadi cara tubuh memahami suara, sementara notasi membantu peserta menyusun kembali pola yang telah dipelajari. Dari pukulan-pukulan dasar, peserta mulai mengenali pengetahuan yang lebih luas dalam karawitan Sunda. (Yabui)

See also  Pelatih Sucitta Art Belajar Tari Bali, Detail Kecil Ternyata Bikin Gerak Berbeda

.