BULAK — Dian datang ke latihan Manuk Banjar dengan pengalaman sebagai penari Serimpi. Tubuhnya terbiasa dengan gerak yang halus, tenang, dan terukur. Di Manuk Banjar, Dian bertemu langkah yang lebih cepat, permainan bahu, perpindahan formasi, serta musik Pantura yang menjaga energi para penari tetap tinggi. Perbedaan itu membuat beberapa bagian terasa menantang, meski tetap dapat diikuti melalui latihan.
“Gerakannya agak sulit, tapi masih bisa diikuti. Menantang, terus suasananya semangat dan seru,” kata Dian.
Dian menjadi satu dari 21 remaja Desa Bulak yang mengikuti program pengabdian kepada masyarakat Manuk Banjar. Kegiatan ini diketuai Dr. Deden Haerudin, M.Sn., dengan anggota Ojang Cahyadi, M.Pd., Dr. Fachri Helmanto, M.Pd., Indra Permadi Mayada, Cantika Ramadani, dan Syifa Fitri Ramadhani. Bersama para peserta, tim mengembangkan Manuk Banjar dengan karakter gerak dan musik yang semakin dekat dengan suasana Pantura.

Tubuh Dian Membawa Pengalaman Serimpi
Pengalaman menari Serimpi membentuk cara Dian mengatur tenaga. Gerak dijalankan dengan lembut, sikap tubuh dijaga, dan perpindahan berlangsung dalam tempo yang tenang. Ketika masuk ke Manuk Banjar, Dian perlu menyesuaikan cara tubuh merespons musik yang lebih ramai.
Kaki Dian harus terus aktif mengikuti mincid. Bahu ikut bergerak, sampur dimainkan, dan posisi kelompok berubah cukup cepat. Dalam satu rangkaian, Dian perlu menjaga langkah, arah tangan, ekspresi, dan jarak dengan penari lain.
Latihan berulang membantu Dian menemukan iramanya. Ketelitian yang dibawa dari Serimpi tetap terasa, lalu bertemu dengan tenaga yang lebih terbuka. Dari situ, Dian mulai menikmati gerak Manuk Banjar tanpa melepaskan kepekaan tubuh yang sudah terbentuk sebelumnya.
Mincid Membuat Panggung Terus Bergerak
Versi terbaru Manuk Banjar banyak menggunakan mincid, nangreu, dan kewer. Mincid membuat kaki berpindah melalui langkah-langkah kecil sambil mengikuti musik. Gerak ini dapat dipadukan dengan obah bahu, ukel, permainan sampur, dan perubahan arah.
Nangreu memberi sikap tubuh yang lebih mantap di antara rangkaian cepat. Penari sejenak menegaskan posisi sebelum kembali bergerak. Kewer kemudian memperluas bentuk melalui tangan dan sampur sehingga gerak terasa lebih jelas dari kejauhan.
Bagi Dian, susunan semacam ini membutuhkan konsentrasi dan stamina. Setiap bagian berjalan rapat, sementara formasi kelompok harus tetap terjaga. Ketika seluruh penari berhasil menyatukan langkah, rasa sulit berubah menjadi kepuasan.

Kacamata Membawa Suasana yang Lebih Santai
Bagian berkacamata dari unsur Sintren tetap dipertahankan dalam Manuk Banjar. Cantika Ramadani menyebut bagian tersebut sebagai salah satu ciri yang paling mudah dikenali. Saat kacamata dikenakan, sikap para penari terasa lebih santai, percaya diri, dan dekat dengan gaya anak muda.
Perubahan suasana itu ikut membantu para peserta menikmati tarian. Gerak yang sebelumnya menuntut ketepatan mulai diisi senyum, permainan arah kepala, dan ekspresi yang lebih bebas. Kacamata menjadi penanda bahwa Manuk Banjar juga memberi ruang bagi keseruan.
Bagi Dian, suasana semacam itu membuat latihan terasa lebih ringan. Kesulitan gerak tetap hadir, tetapi energi musik dan teman-teman membuat prosesnya menyenangkan. Setiap bagian yang berhasil dimainkan bersama memberi dorongan untuk melanjutkan latihan.
Lagu Manuk Banjar Membawa Nama Desa Bulak
Manuk Banjar juga menggunakan lagu baru tentang Desa Bulak. Lirik lagu ditulis Dr. Deden Haerudin, M.Sn.—dengan nama Deden Rangga dalam dokumen lagu—bersama Kang Asep. Aransemen musik digarap oleh Kang Asep.
Lirik tersebut menyebut Desa Bulak sebagai desa wisata mandiri yang berada di sebelah selatan Kota Indramayu dan sebelah timur Jatibarang. Petilasan Pangeran Suryanegara dan Buyut Bulak hadir sebagai jejak sejarah desa. Budaya, ekonomi kreatif, dan pertanian juga disebut sebagai ciri kehidupan warga.
Lagu kemudian bergerak menuju ajakan untuk bersatu, bekerja bersama, mengolah tanah, menjaga desa, dan membangun kehidupan yang makmur. Desa Bulak digambarkan melalui sejarah, kehidupan warga, serta harapan untuk masa depan.
Makna itu ikut dibawa oleh para penari. Saat Dian dan peserta lain bergerak mengikuti irama, pertunjukan membawa nama desa, sejarah lokal, kehidupan pertanian, dan semangat kebersamaan. Lagu membuat Manuk Banjar terasa dekat dengan tempat karya itu tumbuh.

Rasa Sulit yang Terbayar oleh Keseruan
Bagi Dian, Manuk Banjar menghadirkan pengalaman yang berbeda dari Serimpi. Tari ini meminta tubuh bergerak lebih aktif, berpindah lebih cepat, dan terus terhubung dengan kelompok. Setiap latihan menambah kemampuan Dian dalam mengatur tenaga dan membaca perubahan musik.
Dasar Serimpi membantu Dian menjaga ketelitian. Manuk Banjar kemudian memperluas cara Dian menggunakan energi dan ekspresi. Dua pengalaman itu bertemu dalam satu tubuh tanpa perlu saling meniadakan.
Rasa sulit tetap terasa pada beberapa bagian, terutama ketika gerak, tempo, dan formasi berjalan bersamaan. Namun, semangat kelompok membuat tantangan itu terasa sepadan. Musik yang ramai, teman-teman yang bergerak bersama, dan suasana latihan yang seru membuat Dian terus mengikuti proses sampai akhir.
Manuk Banjar akhirnya menjadi pengalaman baru bagi Dian. Dari kelembutan Serimpi, Dian masuk ke dalam riuh gerak Pantura. Dari latihan itu, tubuhnya memperoleh satu lagi cara untuk bergerak, merasakan musik, dan menikmati panggung.