Minggu pagi, 6 September 2026, orang-orang yang hendak terbang dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta menghadapi perjalanan yang berbeda. Pesawat yang seharusnya membawa penumpang keluar dari Jakarta tertahan di darat. Pesawat dari kota lain juga belum dapat mendarat seperti biasa. Penyebabnya berada puluhan kilometer dari bandara: abu dari erupsi Gunung Anak Krakatau bergerak bersama udara menuju ruang yang dilalui pesawat.
Bandara Soekarno-Hatta mulai ditutup sementara pada pukul 01.30 WIB. Penutupan yang semula dijadwalkan sampai pukul 05.30 WIB kemudian diperpanjang mengikuti perkembangan sebaran abu vulkanik. Menjelang sore, penutupan kembali diperpanjang hingga pukul 17.30 WIB. Keberangkatan dan kedatangan pun ikut berhenti sementara.
Dampaknya segera terlihat pada jadwal perjalanan. PT Angkasa Pura Indonesia atau InJourney Airports mencatat 764 pergerakan pesawat terjadwal di Soekarno-Hatta terdampak kondisi tersebut. Di balik angka itu terdapat penumpang yang menunggu, jadwal yang bergeser, penerbangan yang dibatalkan, serta perjalanan yang harus disusun ulang. Sebuah erupsi di Selat Sunda akhirnya ikut mengubah kegiatan orang-orang yang mungkin bahkan tidak pernah melihat Anak Krakatau secara langsung.

Abu yang bergerak dari Anak Krakatau juga menjangkau ruang yang jauh lebih luas daripada kawasan sekitar gunung. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG membaca sebaran abu pada beberapa lapisan ketinggian. Sebagiannya bergerak ke arah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu, serta perairan di sekitar Selat Sunda. Perjalanan abu mengikuti gerakan udara, sehingga wilayah yang jauh dari gunung pun dapat ikut terkena dampaknya.
Soekarno-Hatta juga bukan satu-satunya bandara yang harus menyesuaikan kegiatan. Penutupan sementara dengan waktu berbeda diterapkan di Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Radin Inten II di Lampung, dan Bandara Budiarto di Tangerang. Keputusan tersebut berkaitan dengan keselamatan penerbangan dan perkembangan abu di ruang udara. Jalur yang sehari-hari terlihat kosong dari permukaan tanah ternyata mempunyai batas ketika partikel sangat kecil memasuki lintasan pesawat.
Abu vulkanik memang dapat terlihat seperti debu ketika sudah jatuh di permukaan. Di udara, ceritanya berbeda. Material hasil erupsi dapat masuk ke bagian pesawat dan mengganggu mesin maupun sistem penerbangan. Karena itu, arah dan ketinggian sebaran abu harus terus dipantau sebelum pesawat kembali bergerak seperti biasa.
BMKG juga menerbitkan SIGMET selama periode erupsi berlangsung. SIGMET merupakan informasi mengenai kondisi cuaca atau fenomena di atmosfer yang dapat memengaruhi keselamatan penerbangan. Informasi tersebut diperbarui mengikuti perubahan sebaran abu. Keputusan membuka atau menutup ruang penerbangan akhirnya bisa berubah dalam hitungan jam.
Di sekitar Selat Sunda, pemantauan berlangsung dengan persoalan berbeda. Sensor muka air laut dan radar digunakan untuk membaca perubahan kondisi di sekitar Anak Krakatau. Warga di kawasan pesisir tetap perlu mengikuti informasi resmi karena aktivitas gunung masih dipantau. Dari gunung, perhatian kemudian bergerak ke udara, laut, bandara, hingga layar keberangkatan.
Perjalanan abu dari tengah Selat Sunda menuju ruang udara Jakarta memperlihatkan hubungan yang biasanya luput dalam kegiatan sehari-hari. Gunung, angin, bandara, pesawat, dan jadwal seseorang ternyata dapat berada dalam satu rangkaian peristiwa yang sama. Orang yang pagi itu hanya berniat mengejar penerbangan tiba-tiba harus membaca nama sebuah gunung sebelum kembali melihat nomor keberangkatan di layar.
Di layar bandara, jadwal bisa berubah lagi. Jauh di Selat Sunda, Anak Krakatau masih mengirimkan sesuatu yang ukurannya jauh lebih kecil daripada pesawat, tetapi cukup untuk membuat pesawat tetap berada di tanah.
Tag: Anak Krakatau, abu vulkanik, Soekarno-Hatta, erupsi gunung api, penerbangan, BMKG, Selat Sunda, bencana alam