Dr. Fachri Helmanto dari alumni Doktor Linguistik Terapan UNJ mengajak mahasiswa University of Management and Technology Vietnam mendekati linguistik melalui kata, gambar, dan benda sehari-hari.
Senin siang, 14 September 2026, mahasiswa asal Vietnam memasuki Aula Latief Hendraningrat di Gedung Dewi Sartika Lantai 2. Para mahasiswa datang ke Universitas Negeri Jakarta dengan latar studi administrasi bisnis, pemasaran, manajemen logistik dan rantai pasok, serta manajemen olahraga. Beberapa mahasiswa duduk bersama teman satu bidang, sedangkan mahasiswa lain mengamati ruang pertemuan. Pukul 13.00 WIB, sesi linguistik dalam rangkaian Global Citizen Fellowship 2026 dimulai.
Program tersebut mempertemukan Universitas Negeri Jakarta atau UNJ dengan University of Management and Technology atau UMT dari Ho Chi Minh City, Vietnam. Sebanyak 73 mahasiswa UMT mengikuti kegiatan bersama dua dosen pendamping. Prof. Dr. Dedi Purwana E.S., M.Bus., Direktur Sekolah Pascasarjana UNJ, membuka pertemuan melalui sambutan. Seusai sambutan, Dr. Fachri Helmanto, M.Pd., berdiri di hadapan para mahasiswa.

Bahasa yang keluar dari buku
Dr. Fachri membawakan materi berjudul General Linguistics from Another Perspective: Language, Imagination, and Product Value. Judul tentang linguistik mungkin membawa bayangan mengenai tata bahasa, susunan kalimat, atau deretan istilah. Layar presentasi justru menampilkan cangkir, pakaian, botol minum, stiker, dan jam meja. Benda-benda yang akrab dalam kehidupan mahasiswa mulai membuka pembicaraan tentang bahasa.
Sebuah cangkir dapat digunakan untuk minum kopi. Cangkir yang diberi gambar kampus, nama seseorang, atau penanda sebuah peristiwa akan membawa pengalaman lain ketika dipegang. Bahan dan bentuk cangkir tetap serupa, sedangkan cerita membuat nilai cangkir bergerak. Dr. Fachri mengajak mahasiswa UMT memperhatikan gerak kecil tersebut. fungsi membawa benda ke tangan manusia, lalu makna membuat manusia ingin menyimpannya.
Pembicaraan tentang benda terasa dekat dengan bidang studi mahasiswa UMT. Mahasiswa pemasaran mengenal cara sebuah produk diperkenalkan, mahasiswa administrasi bisnis mempelajari pengelolaan produk, sedangkan mahasiswa logistik memahami perjalanan produk menuju konsumen. Dr. Fachri kemudian mengajukan satu pertanyaan yang sering luput di tengah rangkaian bisnis: mengapa seseorang memilih satu benda dan membiarkan benda lain tetap berada di rak? Jawaban dapat bersembunyi pada nama, simbol, ingatan, dan cerita yang melekat pada produk.
Dari pertanyaan tersebut, linguistik bergerak memasuki kehidupan sehari-hari. Semantik membantu mahasiswa membaca makna, pragmatik memperlihatkan hubungan makna dengan situasi, sedangkan semiotika membuka cara gambar dan simbol bekerja. Analisis wacana membawa pembacaan menuju cerita besar yang mengelilingi sebuah produk. Bahasa akhirnya hadir melalui kalimat, warna, gambar, kemasan, sampai pengalaman manusia saat menggunakan benda.
Satu gelas, satu kemungkinan
Seusai pemaparan, panitia membagikan gelas kertas kepada mahasiswa UMT. Permukaan gelas tampak polos, ringan, dan mudah digenggam dengan satu tangan. Dr. Fachri meminta setiap mahasiswa menaruh satu kata, frasa, atau gambar pada permukaan gelas. Ruangan yang sebelumnya dipenuhi suara presentasi kemudian diisi gerak tangan dan percakapan pendek antarmahasiswa.
Beberapa mahasiswa langsung menggambar pada permukaan gelas. Mahasiswa lain memutar gelas beberapa kali sambil mencari bagian yang ingin diisi lebih dahulu. Goresan kecil mulai muncul, kemudian disusul kata yang dipilih dari pengalaman setiap mahasiswa. Gelas kertas pun memperoleh jejak berbeda di setiap meja.
Latihan gelas kertas mengikuti lima tahap yang dibawa Dr. Fachri dalam materi: imagine, feel, mimic, structure, lalu story. Mahasiswa membayangkan kemungkinan, merasakan hubungan dengan gambar, mengambil sesuatu dari pengalaman, kemudian menyusun pengalaman menjadi cerita. Satu gambar dan satu kata sudah cukup menjadi pintu masuk. Cerita tumbuh ketika pembuat gelas mulai menjelaskan alasan di balik pilihan gambar atau kata.
Lima orang berdiri membawa cerita
Ketika Dr. Fachri menawarkan kesempatan berbagi, lima mahasiswa mengangkat gelas dan maju. Kelima mahasiswa membawa karya kecil yang beberapa menit sebelumnya hanya tersimpan di meja masing-masing. Bahasa Inggris menjadi pengantar cerita, lalu bahasa Vietnam sesekali masuk ketika pengalaman meminta kata yang terasa lebih dekat. Mahasiswa lain mendengarkan sambil memperhatikan gambar pada setiap gelas.
Setiap gelas memiliki bentuk serupa, tetapi cerita dari kelima mahasiswa bergerak ke arah berbeda. Gambar membawa pengalaman pribadi, kata mengikat ingatan, sedangkan suara membuat isi gelas sampai kepada pendengar. Campuran bahasa Inggris dan Vietnam memperlihatkan cara seseorang memakai seluruh kemampuan berbahasa untuk menjaga cerita tetap hidup. Pada momen tersebut, pelajaran linguistik tumbuh bersama keberanian mahasiswa untuk berbicara.