Ruang sidang sempat riuh ketika Fachri Helmanto mengajukan pertanyaan balik kepada promotornya, Prof. Dr. Endry Boeriswati, M.Pd. Saat itu, Prof. Endry sedang menceritakan pengalaman masa kecil ketika guru kerap meninggalkan kelas dan mengganti pembelajaran dengan tugas menulis cerita. Prof. Endry pernah menulis kisah hantu serta cerita tentang delapan ayam betina dan dua ayam jantan yang setiap hari menghasilkan sepuluh telur. Cerita tersebut kemudian diajukan untuk menguji konsep Imajinasi Populer atau IPOP yang dirumuskan Fachri.
Prof. Endry bertanya apakah cerita ayam tersebut dapat disebut sebagai IPOP. Fachri menjawab bahwa cerita itu belum dapat dikategorikan sebagai IPOP berdasarkan informasi yang tersedia saat itu. Ayam dalam cerita Prof. Endry masih hadir sebagai hasil pembayangan, sementara jejak budaya populer yang memberi bentuk simbolik kepada cerita tersebut belum ditemukan. Karena IPOP melibatkan pengalaman, perkembangan kognitif, dan lingkungan budaya populer, Fachri perlu menelusuri latar pengalaman Prof. Endry sebelum memberikan jawaban.
Fachri kemudian bertanya apakah ayam merupakan bagian yang lazim dalam kehidupan sehari-hari Prof. Endry ketika tumbuh di Semarang. Pertanyaan balik itu mengundang kegaduhan ringan karena promovendus seolah sedang menguji promotornya. Prof. Endry menjelaskan bahwa ayam bukan bagian yang dekat dengan kesehariannya dan cerita tersebut memang tumbuh dari pembayangan. Jawaban itu membantu Fachri memperlihatkan perbedaan antara imajinasi sebagai pembayangan dan Imajinasi Populer yang memperoleh bentuk melalui lingkungan budaya populer.
Percakapan tersebut berlangsung dalam ujian terbuka promosi doktor Fachri di Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, Senin, 3 Agustus 2026. Fachri mempertahankan disertasi berjudul Imajinasi Populer: Proses Imajinasi Penulis Anak pada Program Studi Doktor Linguistik Terapan. Ujian terbuka itu dipimpin oleh Prof. Dr. M. Japar, M.Si., sebagai ketua sidang. Momen tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Fachri menelusuri proses yang berlangsung sebelum pengalaman berubah menjadi tokoh, latar, konflik, dan penyelesaian cerita.

Dari Pola Cerita Menuju Pengalaman Anak
Penelitian Fachri berangkat dari sejumlah cerita anak yang memperlihatkan pola imajinasi berulang. Nama tokoh dapat berubah, latar dapat berpindah, dan peristiwa dapat tampil dalam bentuk berbeda. Namun, konflik, tindakan, emosi, dan penyelesaian sering bergerak melalui struktur yang serupa. Pengalaman anak juga kembali hadir melalui pilihan nama, ruang, peristiwa, tindakan, dan cara cerita ditutup.
Pola tersebut membawa Fachri pada pertanyaan tentang hubungan antara pengalaman dan tulisan. Fachri ingin mengetahui bagaimana pengalaman diingat, dirasakan, diberi bentuk, kemudian disusun menjadi cerita. Perhatian Fachri juga bergerak kepada budaya populer yang menyediakan figur, citra, adegan, gaya hidup, media, dan pola cerita. Dari sana muncul pertanyaan tentang cara anak meniru, mengubah, menggabungkan, dan menata ulang berbagai bahan yang dijumpai dalam kehidupan.
Pertanyaan yang mula-mula tampak sederhana berkembang menjadi penelitian selama bertahun-tahun. Fachri membaca teori, menemui penulis anak, mengumpulkan cerita, dan mendengarkan pengalaman para partisipan. Fachri juga berulang kali menata kembali istilah, kategori, temuan, dan model setelah menerima kritik dalam seminar serta ujian. Proses tersebut membuat cerita anak terlihat sebagai jejak kesadaran yang bekerja sebelum tulisan memperoleh bentuk akhirnya.
Pengalaman Menjadi Pusat Aktivasi Imajinasi
Fachri menggunakan pendekatan fenomenologi naratif dalam penelitian. Fenomenologi digunakan untuk membaca cara pengalaman hadir dalam kesadaran anak. Analisis naratif digunakan untuk melihat cara pengalaman tersebut disusun menjadi tokoh, latar, konflik, tindakan, dan resolusi. Perhatian penelitian pun bergerak dari cerita sebagai produk menuju proses pengalaman yang mendahului cerita.
Subjek penelitian berasal dari sejumlah wilayah di Indonesia dan Thailand dengan rentang usia 7 hingga 15 tahun. Fachri menemukan bahwa pengalaman menjadi pusat aktivasi proses imajinasi. Budaya populer menyediakan bentuk simbolik yang dapat digunakan anak untuk mengenali dan menyampaikan pengalaman. Struktur kognitif naratif kemudian membantu anak menyusun pengalaman tersebut menjadi rangkaian cerita.
Jejak proses itu tersimpan dalam bahasa cerita. Fachri membacanya melalui diksi, nama tokoh, verba tindakan, ekspresi emosi, penanda ruang, dan bentuk penutupan cerita. Anak dapat meniru tokoh atau adegan yang dikenal melalui media, kemudian memodifikasi sifat, peristiwa, serta hubungan antartokoh. Peniruan bergerak bersama pengalaman pribadi sehingga cerita yang dihasilkan tetap membawa jejak khas penulisnya.
Lima Gerak dalam Proses IPOP
Fachri merumuskan lima gerak dalam proses IPOP, yaitu membayangkan, merasakan, meniru, menyusun, dan menulis. Kelima gerak tersebut berlangsung secara sirkular. Anak dapat memulai dari pengalaman yang dirasakan, citra yang dibayangkan, atau figur yang ditemui melalui media. Berbagai bahan tersebut kemudian ditata hingga memperoleh bentuk sebagai cerita.
Cerita yang selesai ditulis dapat kembali menjadi pengalaman baru. Anak dapat membaca ulang tulisannya, menerima tanggapan, atau mengembangkan tokoh yang sama dalam cerita berikutnya. Proses imajinasi kemudian bergerak kembali dari cerita menuju pengalaman. Sirkularitas tersebut membuat IPOP terus tumbuh melalui hubungan antara kesadaran, budaya populer, bahasa, dan struktur naratif.
Fachri mendefinisikan IPOP sebagai kesadaran individu yang tumbuh dari pengalaman dan perkembangan kognitif, mengambil bentuk melalui lingkungan budaya populer, lalu diolah serta distrukturkan menjadi cerita. Definisi tersebut menjelaskan mengapa cerita ayam Prof. Endry belum langsung dinyatakan sebagai IPOP. Unsur membayangkan telah hadir, tetapi pengaruh budaya populer masih perlu ditemukan. Berdasarkan informasi yang muncul dalam sidang, cerita itu lebih tepat dibaca sebagai imajinasi yang belum memperlihatkan keseluruhan proses IPOP.
Gagasan Tumbuh melalui Pertanyaan Para Penguji
Dalam ujian terbuka, Fachri mempresentasikan perjalanan penelitian dan model IPOP. Para penguji mengajukan pertanyaan tentang fenomenologi, kreativitas, budaya populer, bahasa, struktur naratif, dan manfaat penelitian. Setiap pertanyaan membawa Fachri kembali kepada data untuk menjelaskan batas serta cara kerja konsep yang dirumuskan. Dialog dalam ujian memperlihatkan bahwa gagasan akademik bertumbuh melalui kritik, pemeriksaan, dan pertukaran pengalaman.
Ujian terbuka tersebut dipimpin oleh Prof. Dr. M. Japar, M.Si., sebagai ketua sidang. Prof. Dr. Endry Boeriswati, M.Pd., bertindak sebagai promotor, sedangkan Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum., menjadi kopromotor. Dewan penguji juga melibatkan Prof. Dr. Fathiaty Murtadho, M.Pd.; Dr. Saifur Rohman, M.Hum.; Dr. Helvy Tiana Rosa, M.Hum.; dan Prof. Dr. Suminto A. Sayuti. Setiap penguji membawa perhatian yang berbeda untuk mempertajam dasar fenomenologis, dimensi naratif, ketepatan bahasa, kreativitas, dan posisi IPOP dalam kajian Linguistik Terapan.
Prof. Endry menjaga pertumbuhan intelektual IPOP melalui pertanyaan, tantangan, dan dorongan agar Fachri terus kembali kepada data. Prof. Novi membersamai penyelesaian tahapan akademik hingga penelitian tiba pada ujian terbuka. Pendampingan keduanya membuat IPOP terus diperiksa, diperjelas, dan disusun menjadi model yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam proses tersebut, promotor dan kopromotor hadir sebagai pembaca yang menjaga arah penelitian sekaligus memberi ruang bagi Fachri untuk mempertahankan temuannya.
Prof. Fathiaty telah menyaksikan banyak bagian dari perjalanan akademik Fachri, termasuk masa ketika Fachri harus belajar menunggu dan menjaga penelitian tetap bergerak. Prof. Fathiaty juga terus mengajak Fachri berdiskusi serta menghubungkan IPOP dengan pengalaman yang dekat, yaitu pembayangan terhadap cucu. Percakapan itu membantu Fachri melihat bahwa imajinasi anak hidup dalam rumah, hubungan antargenerasi, dan cara orang dewasa berusaha memahami dunia anak. Dari pengalaman tersebut, konsep imajinasi bergerak keluar dari ruang teori dan kembali kepada kehidupan keluarga.
Dr. Saifur Rohman membuka arah pemikiran Husserlian yang membantu Fachri membaca perubahan pengalaman menjadi bentuk naratif. Dr. Helvy Tiana Rosa telah hadir sejak penelitian masih berada pada tahap pendahuluan, sekaligus memberi ruang bagi Fachri untuk mempertahankan perhatian pada proses sebelum pengalaman berubah menjadi tulisan. Prof. Suminto mempertajam dimensi naratif dan mengingatkan pentingnya ketelitian penulisan. Masukan para penguji membuat ketajaman konseptual berjalan bersama kejernihan bahasa.
Cerita ayam Prof. Endry menjadi salah satu momen ketika teori bertemu pengalaman sehari-hari. Prof. Endry membuka ingatan masa kecil sebagai bahan pemeriksaan, sementara Fachri menjaga ketentuan konsep dengan mencari pengalaman yang melatarinya. Ruang sidang kemudian terasa cair ketika promovendus mengajukan pertanyaan balik kepada promotornya. Dari percakapan yang riuh itu, IPOP justru memperoleh contoh tentang pentingnya memeriksa hubungan antara pembayangan, pengalaman, dan budaya populer.
Gelar yang Bertumbuh Bersama Keluarga
Perjalanan doktoral Fachri tumbuh melalui dukungan keluarga. Fachri menyebut ayahnya, Drs. H. Kartono, sebagai orang yang sejak kecil mengajarkan cara membaca alam, kehidupan, dan hubungan antara masa lalu dengan masa kini. Almarhumah ibunya, Hj. Helma, S.Pd., menjadi ruang pertama tempat Fachri belajar bahwa cerita lahir karena seseorang bersedia mendengarkan. Dari keduanya, Fachri mengenali pengalaman sebagai sumber makna dan cerita sebagai sesuatu yang layak dijaga.
Istri Fachri, Seri Bintang Matondang, S.Pd., mendampingi perjalanan yang dipenuhi data, teori, revisi, dan waktu keluarga yang harus berbagi ruang dengan penelitian. Dalam ucapan terima kasih, Fachri menggambarkan Seri Bintang sebagai rumah ketika perjalanan akademik terasa terlalu panjang. Seri Bintang menjaga kehidupan keluarga tetap berjalan ketika perhatian Fachri masih berada pada halaman-halaman yang belum selesai. Gelar doktor membawa nama Fachri, tetapi di dalamnya tersimpan kesabaran Seri Bintang yang tidak tercatat pada halaman disertasi.
Kelima anak Fachri juga membentuk cara Fachri membaca dunia anak. Savindhia Alfachrian menunjukkan bahwa sebuah buku kecil dapat membuka dunia imajinasi yang luas. Sabibizwa Tafachrial memperlihatkan kedewasaan anak melalui perhatian kepada adik-adiknya, sedangkan Fahlevi Yasir Birri kerap mengejutkan melalui pilihan diksi. Senyum Hasbi Musoffaa Birka menjadi wajah maskot IPOP, sementara Khalas Hamdi Birru menjaga rumah tetap ramai dan mengingatkan bahwa imajinasi dapat tumbuh dari permainan, tawa, dan kekacauan kecil yang membahagiakan.
Orang-Orang di Balik Perjalanan IPOP
Perjalanan IPOP juga melibatkan banyak orang di luar keluarga. Guru-guru membantu Fachri memasuki dunia cerita anak, termasuk Bu Ambarwati dari SD Pameket dan Bu Fajriatul Ikrimah dari SD Ambarwinangun. Dr. Syarfuni, suami Vera, bersama anak-anak Vera menjadi bagian dari jaringan pengalaman penelitian. Fajar Ramadhan mendampingi perjalanan sebagai pengemudi di Aceh, sedangkan keluarga Salman menerima dan membantu Fachri selama berada di Lombok.
Jeqi, Mega Milenia, Dianika, almarhumah Pipiet Senja, dan Mas Thabrani, Ketua Literasi Kalimantan Utara, turut menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Tara dan Dayana, teman seperjuangan Fachri sejak jenjang sarjana, hadir dalam lapisan perjalanan yang lebih panjang. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa penelitian lapangan dibangun melalui kepercayaan, pertemanan, akses, dan kesediaan banyak orang untuk membuka ruang. Setiap perjumpaan memberi pengalaman yang kemudian ikut menjaga penelitian tetap bergerak.
Wuwuh hadir sebagai bagian dari Grup Menari Saat Hujan bersama Arif, Frisyi, Ana, Novanda, Salman, Vera, dan Tasya. Kelompok tersebut membersamai pengumpulan data, perjalanan lapangan, percakapan, dan berbagai situasi yang membuat penelitian tetap hidup.
Teman-teman Linguistik Terapan juga menjadi ruang belajar, bertanya, dan bercanda. Di antara mereka terdapat Dr. Anim, Dr. Idrus, Dr. Reni, Dr. Asep, Dr. Yulian, Dr. Imam, Dr. Erna, La Muda, Mas Anam, Nofia, Lina, Kang Rizki, Bang Adi, Bang Disa, Isti, Mita, Danang, Pak Tondo, Heri, Irvani, Satya, Rikal, Yanti, Ibnu, dan Pak Dudung. Fachri juga menyebut Purnawati, Ayu Bandu, Aan, Bobby, dan Abduh sebagai bagian dari lingkungan akademik yang membersamai perjalanan tersebut. Gelar doktor akhirnya menyimpan jejak relasi yang jauh lebih luas daripada satu nama pada sampul disertasi.
Mengembalikan IPOP kepada Anak
Penelitian Fachri menghasilkan model teoretik Imajinasi Populer, model proses IPOP, dan perangkat pembacaan yang menghubungkan pengalaman, budaya populer, serta struktur kognitif naratif. Kontribusinya bergerak menuju kajian linguistik terapan, literasi, cerita anak, dan pembelajaran menulis. Fachri juga merencanakan bentuk-bentuk yang lebih dekat dengan anak. Gagasan IPOP akan dikembangkan melalui buku, novel grafis, media visual, maskot, dan berbagai produk edukatif.
Arah tersebut membawa hasil penelitian kembali kepada sumbernya. Anak-anak telah membagikan pengalaman, kegembiraan, ketakutan, tokoh, dunia, dan cerita kepada Fachri. Dari perjumpaan itu, Fachri melihat bahwa kesadaran anak jauh lebih kaya daripada kategori yang sering dibuat oleh orang dewasa. Penelitian pun berkembang menjadi upaya mendengarkan cara anak mengalami, membayangkan, dan membentuk dunianya.
Ujian terbuka menandai selesainya satu tahap perjalanan akademik. Namun, IPOP baru mulai memasuki ruang yang lebih luas. Model tersebut masih akan digunakan, diuji, dibaca ulang, dan dikembangkan bersama guru, orang tua, peneliti, komunitas literasi, dan anak-anak. Dari ruang sidang, pertanyaannya bergerak kembali ke kehidupan: bagaimana IPOP akan hidup dan bertumbuh bersama orang-orang yang menggunakannya?