Siswa kelas VI B UPT SDN 3 Kebonsari mencoba membuat Shibori melalui teknik lipat dan jepit. Kain polos berubah menjadi pola berwarna, sementara prosesnya membawa mereka mengenal seni tekstil, kerja bersama, dan perjalanan sebuah karya dari bahan sederhana menuju sesuatu yang bisa dipakai.

KEBONSARI — Selembar kain mori masih terlihat polos ketika sampai ke tangan siswa kelas VI B UPT SDN 3 Kebonsari, Tuban. Di sekitar mereka sudah tersedia baskom, pewarna tekstil, tali rafia, karet gelang, penjepit, garam, dan sarung tangan. Hari itu, 21 Mei 2026, halaman sekolah menjadi tempat anak-anak belajar lewat kain, air, warna, dan tangan mereka sendiri.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang melibatkan Velia Ayu Anurrohmah, Siti Mauliana, Siti Afinatul Khunafa, Yuhanith Zamaruda, Willis Niki Suryadita, Viandra Aditya Primadani, dan Dede Nuraida. Mereka memperkenalkan Shibori kepada siswa melalui penjelasan singkat sebelum anak-anak masuk ke bagian yang paling ditunggu, yaitu mencoba sendiri proses pembuatannya.
Sebelum kain bertemu pewarna, siswa harus lebih dulu menentukan lipatan. Kain yang semula lebar dilipat menjadi bidang-bidang kecil, lalu dijepit pada bagian tertentu. Ada pula karet gelang dan tali yang membantu mempertahankan bentuknya. Dari luar, kain yang sudah terlipat itu belum menunjukkan banyak hal. Motifnya masih tersembunyi.
Baru setelah proses pencelupan selesai, kain dibilas, dikeringkan, dan lipatannya dibuka. Di situlah bagian yang sejak awal sulit ditebak mulai muncul. Warna masuk ke beberapa bidang, tertahan di bagian lain, lalu membentuk pola mengikuti jejak lipatan dan tekanan penjepit.
Mengenal Shibori dari Lipatan Kain
Nama Shibori mungkin masih terdengar asing bagi sebagian siswa. Teknik ini berasal dari tradisi pengolahan tekstil Jepang dan bekerja dengan cara mengatur bagian kain yang menerima warna. Kain dapat dilipat, diikat, dijahit, digulung, atau ditekan sebelum proses pewarnaan sehingga pola muncul dari bagian-bagian yang terlindungi.
Siswa Kebonsari menggunakan teknik Itajime. Cara kerjanya cukup mudah dilihat. Kain dilipat, kemudian bagian tertentu dijepit untuk menahan masuknya warna. Setelah dicelup, bentuk lipatan dan posisi jepitan meninggalkan jejak yang akhirnya menjadi pola. Dalam pelatihan ini, siswa diperkenalkan pula pada variasi teknik lain, fungsi alat, pencampuran warna, dan cara bekerja dengan aman selama pewarnaan.
Buat anak-anak yang terbiasa melihat barang ketika sudah jadi, proses semacam ini membawa pengalaman berbeda. Motif yang biasanya langsung terlihat pada pakaian, totebag, atau kain di layar ponsel kali ini harus dibuat dari awal. Mereka melihat sendiri bahwa pola memiliki proses. Sebelum sebuah kain terlihat menarik, ada keputusan yang harus dibuat mengenai lipatan, tekanan, warna, dan urutan pengerjaan.
Setiap kelompok kemudian memperoleh hasil yang punya karakter sendiri. Posisi jepitan sedikit berbeda dapat membuat bentuk yang berbeda. Lipatan yang lebih rapat akan meninggalkan jejak yang lain. Warna yang masuk ke serat kain akhirnya merekam pekerjaan tangan yang dilakukan beberapa saat sebelumnya.
Ketika Hasilnya Belum Bisa Ditebak
Ada rasa penasaran yang terus ikut selama proses berlangsung. Siswa mengetahui apa yang mereka lakukan, tetapi hasilnya masih sulit dibayangkan secara persis. Mereka dapat mengikuti arahan yang sama, menggunakan bahan yang sama, lalu memperoleh pola yang tidak sepenuhnya serupa.
Bagian membuka lipatan kemudian menjadi semacam jawaban. Kain yang sebelumnya terlihat seperti tumpukan kecil mulai dibentangkan. Bidang-bidang warna terlihat satu per satu. Jejak tekanan penjepit mulai membentuk pola. Dari sana siswa dapat melihat hubungan antara cara mereka melipat kain dengan hasil yang akhirnya muncul.
Pengalaman seperti ini membuat belajar terasa lebih dekat dengan percobaan. Ada perkiraan, ada proses, lalu ada hasil yang dapat langsung diperiksa. Ketika motif berbeda dari bayangan awal, siswa masih bisa melihat apa yang mungkin membuatnya berubah. Ketika hasilnya sesuai harapan, mereka mengetahui pilihan mana yang berhasil.
Dalam kegiatan tersebut, pembelajaran memang diarahkan pada pengalaman langsung. Siswa bekerja dalam kelompok kecil dan mengikuti tahapan sejak persiapan kain sampai pembukaan hasil. Kerja bersama muncul di tengah proses karena alat digunakan bergantian, langkah pengerjaan harus diikuti, dan setiap anggota kelompok ikut menentukan bagaimana karya mereka akan terlihat.
Kain Juga Punya Cerita
Pertemuan dengan Shibori terasa dekat ketika diletakkan di tengah kehidupan anak-anak Indonesia yang sejak kecil sudah akrab dengan kain bermotif. Batik hadir dalam seragam, pakaian keluarga, acara sekolah, perayaan, hingga barang sehari-hari. Karena terlalu dekat, proses panjang di balik sebuah kain kadang justru luput terlihat.
Batik dan Shibori tumbuh dari tradisi yang berbeda, namun keduanya memperlihatkan bagaimana manusia dapat mengolah hubungan antara kain dan warna. Dalam batik, sebagian permukaan kain dilindungi melalui proses perintangan warna. Dalam Shibori, perlindungan dapat terbentuk lewat lipatan, ikatan, jahitan, atau tekanan.
Hubungan antara tekstil dan pembelajaran juga memiliki jejak panjang di Indonesia. UNESCO mencatat program pendidikan dan pelatihan batik bersama Museum Batik Pekalongan sebagai salah satu Good Safeguarding Practices sejak 2009. Program tersebut ditujukan untuk membawa sejarah, nilai budaya, dan keterampilan batik kepada generasi muda melalui pendidikan, mulai dari sekolah dasar sampai jenjang yang lebih tinggi.
Pengalaman di Kebonsari bergerak dalam semangat yang serupa, meski menggunakan bentuk kegiatan dan teknik yang berbeda. Anak-anak masuk ke dunia tekstil melalui praktik. Mereka tidak hanya mendengar penjelasan tentang kain dan motif. Mereka mengerjakannya sendiri.
Dari Kain Polos ke Barang yang Bisa Dipakai
Setelah pola terbentuk, pembicaraan tentang kain juga bisa bergerak ke hal lain. Karya Shibori dapat dikembangkan menjadi saputangan, totebag, pakaian, atau berbagai benda tekstil lain. Dalam program ini, kemungkinan tersebut ikut diperkenalkan sebagai bagian dari pengalaman awal mengenai kewirausahaan.
Bagi siswa, hubungan antara kreativitas dan nilai sebuah barang dapat terlihat cukup jelas. Kain polos memiliki bentuk awal yang sederhana. Setelah melalui lipatan, pencelupan, pengeringan, dan pembukaan pola, benda itu memperoleh rupa baru. Jika kemudian diolah kembali menjadi tas atau produk lain, nilainya ikut berubah.
Di layar ponsel, perjalanan sebuah benda sering terlihat sangat pendek. Produk muncul dalam foto, masuk keranjang belanja, lalu sampai ke rumah. Kegiatan di Kebonsari membawa siswa melihat tahap yang biasanya berada jauh sebelum itu. Mereka berada di sisi orang yang membuat.
Mereka merasakan bahwa sebuah hasil membutuhkan waktu. Ada pekerjaan yang harus diulang. Ada bagian yang harus dilakukan dengan hati-hati. Ada pula hasil yang baru dapat diketahui setelah seluruh proses selesai.
Belajar Lewat Sesuatu yang Bisa Dibawa Pulang
Velia Ayu Anurrohmah, Siti Mauliana, Siti Afinatul Khunafa, Yuhanith Zamaruda, Willis Niki Suryadita, Viandra Aditya Primadani, dan Dede Nuraida kemudian mendokumentasikan perubahan pemahaman siswa setelah kegiatan berlangsung. Hasil evaluasi dalam laporan mereka menunjukkan siswa semakin memahami Shibori setelah memperoleh penjelasan dan menjalani praktik langsung. Respons peserta terhadap kegiatan juga tercatat positif.
Namun pengalaman hari itu juga dapat dilihat melalui perubahan yang lebih sederhana. Pada awal kegiatan, siswa memegang kain polos dan mendengar nama teknik yang bagi sebagian dari mereka masih baru. Beberapa waktu kemudian, mereka sudah tahu cara melipat, menjepit, mencelup, dan membaca pola yang muncul dari kain tersebut.
Mereka juga mengenal bahwa sebuah motif dapat menyimpan proses. Ada bagian yang lahir dari perencanaan, ada yang muncul dari percobaan, dan ada pula kejutan yang baru terlihat ketika kain dibentangkan.
Di halaman sekolah Kebonsari, belajar kemudian hadir dalam bentuk yang bisa disentuh. Anak-anak dapat memegang hasilnya, membandingkan pola dengan teman, melihat kembali lipatan yang mereka buat, lalu membawa pulang pengalaman mengenai bagaimana sebuah benda berubah melalui tangan mereka sendiri.
Kain mori yang pada awal kegiatan hanya berupa bidang putih akhirnya dipenuhi warna dan pola. Perubahan itu terlihat jelas. Yang ikut berubah di sepanjang proses adalah cara siswa memandang kain tersebut. Dari benda sederhana, ia menjadi tempat untuk mencoba, bekerja bersama, membuat keputusan, dan melihat hasil dari keputusan itu sendiri.