Penampilan Arthritala Rombel 2 dari Universitas Negeri Jakarta terasa hidup sejak para pemain mulai memenuhi panggung dengan gerak, nyanyian, dan energi khas anak sekolah. Abu-Abu yang Memudar membawa cerita tentang Aluna, siswi baru yang ingin memiliki teman dan menemukan tempat di lingkungan barunya.

Keinginan sederhana itu mempertemukannya dengan Veya, Lia, dan Rara, kelompok Queen Bee yang menguasai pergaulan sekolah. Aluna sempat merasa diterima. Perlahan, kedekatan itu berubah menjadi tekanan. Ia harus mengikuti aturan kelompok, termasuk mendekati Raka sebagai bagian dari pembuktian kesetiaan.
Di antara para pemain, Roni Sitompul yang memerankan Raka mencuri perhatian. Pembawaannya santai dan terasa pas dengan sosok Raka yang populer, percaya diri, serta terbiasa menjadi pusat perhatian.
Roni juga membawa kedekatan personal ke dalam perannya. Latar dirinya yang berasal dari Medan membuat cara bicara dan sikap Raka terasa mengalir. Ia tampil lepas tanpa kehilangan kendali atas karakter.
Adegan Raka bermain gitar menjadi salah satu bagian yang paling melekat. Petikan gitarnya terdengar mantap, sementara interaksinya dengan Aluna tumbuh dengan ringan. Keduanya duduk, bernyanyi, lalu berbincang seperti dua remaja yang mulai merasa nyaman.
Adegan itu memberi ruang tenang di tengah ketegangan yang dibangun oleh Queen Bee. Raka dan Aluna terlihat semakin dekat, sementara Veya mengamati dari kejauhan. Rasa cemburu kemudian bergerak menjadi rencana untuk mempermalukan Aluna.
Naskah pertunjukan memang menempatkan permainan gitar sebagai bagian penting dalam pertemuan Raka dan Aluna. Setelah Raka memainkan lagu, keduanya melanjutkan percakapan yang membuat Veya merasa tersaingi.
Emosi Hadir Lewat Gerak
Para pemain Abu-Abu yang Memudar merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Tari Universitas Negeri Jakarta. Latar pendidikan itu terasa kuat sepanjang pertunjukan.
Setiap perubahan emosi memperoleh bentuk melalui tubuh. Kegugupan Aluna terlihat dari langkah dan posisi tubuhnya. Kekuasaan Queen Bee hadir melalui formasi yang rapat, tatapan tajam, serta gerak serempak. Kecemburuan Veya tumbuh melalui perubahan mimik dan intensitas geraknya.
Tari menyatu dengan perkembangan cerita. Saat konflik meningkat, gerakan para pemain ikut membesar. Saat suasana melunak, tubuh mereka bergerak lebih santai. Penonton dapat mengikuti perubahan hubungan antartokoh melalui dialog sekaligus koreografi.
Adegan battle di kantin menjadi salah satu contoh yang kuat. Gerak dipakai sebagai cara kelompok-kelompok siswa menunjukkan posisi sosial mereka. Queen Bee memasuki ruang dengan formasi teratur, lalu menguasai perhatian lewat tarian.
Tubuh para pemain akhirnya menjadi bagian dari percakapan. Perasaan yang belum sempat disampaikan lewat kata-kata sudah lebih dulu terlihat lewat arah pandang, jarak antarpemain, dan perubahan tempo gerak.
Dari Badak-Badak ke Dunia Sekolah
Abu-Abu yang Memudar lahir dari naskah asli Rhinoceros karya Eugène Ionesco, yang diterjemahkan dalam Badak-Badak oleh Jim Lim, kemudian diadaptasi ke dalam realitas sekolah. Gagasan tentang manusia yang larut dalam arus kelompok dibawa ke lingkungan sekolah yang dekat dengan pengalaman para pemain.
Dalam pertunjukan ini, tekanan kelompok hadir melalui pergaulan remaja. Aluna ingin memperoleh teman. Ia menerima ajakan Queen Bee karena kehadiran mereka menjanjikan kebersamaan. Setelah masuk, ia mulai mengikuti permintaan kelompok meski beberapa tindakan membuatnya ragu.
Cerita kemudian bergerak menuju penghinaan di kafe. Aluna datang menemui Raka dengan riasan yang sengaja dibuat untuk mempermalukannya. Tawa orang-orang membuat rasa percaya dirinya runtuh. Pada saat itu, pertemanan yang ia harapkan berubah menjadi pengalaman yang menyakitkan.
Pilihan latar sekolah membuat gagasan Badak-Badak terasa dekat. Dorongan untuk mengikuti kelompok muncul melalui bahasa pergaulan, kebutuhan akan validasi, rasa takut sendirian, dan persaingan memperoleh perhatian.
Blackout yang Masih Terasa Panjang
Energi pertunjukan sempat menurun ketika perpindahan adegan berlangsung melalui blackout yang cukup lama. Beberapa emosi yang sudah tumbuh terasa terputus sebelum cerita memasuki ruang berikutnya.
Hal ini paling terasa karena para pemain memiliki kemampuan gerak yang kuat. Perubahan latar sebenarnya dapat mengalir melalui koreografi, formasi, atau perpindahan properti yang menjadi bagian dari cerita. Transisi semacam itu akan menjaga irama pertunjukan tetap hidup.
Meski demikian, kekuatan Abu-Abu yang Memudar tetap berada pada cara tubuh, musik, dan dialog saling mengisi. Para pemain membawa pengalaman pendidikan tari mereka ke dalam teater musikal dengan energi yang segar.
Di bawah dramaturgi Dr. Deden Haerudin, S.Sn., M.Sn. dan Dr. Fachri Yabui, M.Pd., pertunjukan ini menghadirkan dunia remaja yang penuh hasrat untuk diterima. Persahabatan, kecemburuan, dan rasa malu bergerak dari percakapan menuju tarian.
Roni Sitompul memberi warna kuat melalui perannya sebagai Raka. Permainan gitarnya, pembawaan yang santai, serta kedekatannya dengan karakter membuat kemunculan Raka terasa alami. Dari sana, Abu-Abu yang Memudar menemukan salah satu momen terbaiknya: ketika dua remaja bernyanyi bersama, sementara konflik perlahan tumbuh di sekeliling mereka. (Arif Hidayat)