Pertemuan gamelan Sunda dan Gong Kebyar Bali dalam penelitian kreatif Universitas Negeri Jakarta bermula dari tiga titik nada. Dari hubungan da, na, dan ti dengan dang, ding, dan dong, sebanyak 33 mahasiswa Pendidikan Tari bersama dua dosen membangun sebuah tataluan untuk membuka pertunjukan wayang golek Sunda.

Studio Iringan Tari Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta dipenuhi lapisan bunyi pada Selasa, 16 Juni 2026.
Gamelan Sunda membawa warna musikal yang dekat dengan pertunjukan wayang golek. Gong Kebyar Bali menghadirkan tenaga ritmis, aksen yang tegas, dan perubahan dinamika. Kedua perangkat itu dimainkan dalam diseminasi penelitian produk kreatif bertajuk “Penciptaan Karya Gending Tataluan pada Sajian Pertunjukan Wayang Golek Sunda melalui Media Gamelan Sunda dan Gong Kebyar Bali”.
Karya tersebut dikembangkan oleh tiga dosen Program Studi Pendidikan Tari FBS UNJ dengan wilayah keahlian yang saling melengkapi.
Ojang Cahyadi, S.Sn., M.Pd. menggarap wilayah musik dan karawitan. Dr. Deden Haerudin, S.Sn., M.Sn. memberi masukan pada bentuk pertunjukan dan dramatik musik. Endik Guntaris, S.Pd., M.Pd. membawa pengalaman tari serta hubungan antara irama, tenaga, dan tubuh pemain.
Komposisi dimainkan oleh 35 orang. Sebanyak 33 pemain merupakan mahasiswa Pendidikan Tari. Ojang Cahyadi dan Endik Guntaris ikut memainkan gamelan bersama para mahasiswa.
Proposal penelitian menempatkan karya ini sebagai sajian pra-pertunjukan wayang golek Sunda yang dikembangkan melalui gamelan Sunda dan Gong Kebyar Bali. Prosesnya meliputi eksplorasi, improvisasi, pembentukan komposisi, latihan, evaluasi, dan penampilan.
Karya itu bermula dari pengalaman mendengar tiga nada.
Tiga Nada Membuka Jalan Pertemuan
Ojang Cahyadi mendengarkan gamelan Sunda dan Gong Kebyar Bali secara berdampingan. Dari proses tersebut, ia menemukan kedekatan bunyi pada nada bernomor 1, 3, dan 4.
Dalam notasi daminatila Sunda, ketiga angka itu dibaca da, na, dan ti. Dalam penyebutan nada Bali yang digunakan pada Gong Kebyar, pasangan bunyinya dibaca dang, ding, dan dong.
Hubungan itu dapat didengar sebagai:
nada 1: da bertemu dang
nada 3: na bertemu ding
nada 4: ti bertemu dong
Nama-nama tersebut menjadi penanda posisi nada dalam sistem musikal masing-masing. Bunyi aktualnya mengikuti laras dan penyetelan perangkat gamelan yang dimainkan di studio.
Karena setiap perangkat memiliki karakter suara sendiri, pertemuan itu ditemukan melalui pendengaran langsung.
Satu instrumen dipukul. Gaungnya didengarkan. Nada pada perangkat lain kemudian dibunyikan sebagai pembanding. Ketika dua suara terasa dekat, hubungan tersebut diuji lagi melalui pola melodi dan permainan bersama.
Da–dang, na–ding, dan ti–dong kemudian menjadi pijakan penciptaan.
Dari tiga titik itulah jalur musikal disusun. Gamelan Sunda dan Gong Kebyar dapat bergerak bersama pada bagian tertentu, saling menjawab, lalu kembali menampilkan warna bunyi masing-masing.
Nada Tumbuk sebagai Titik Sambung
Dalam praktik karawitan, pertemuan tinggi bunyi dari dua perangkat dapat dipahami sebagai nada tumbuk.
Istilah ini menunjuk pada nada-nada yang terdengar sama atau paling berdekatan ketika dimainkan bersama. Bagi penata musik, nada tumbuk berfungsi sebagai titik sambung antara dua lingkungan laras.
Pertemuan tersebut menyerupai dua jalan yang berjumpa pada satu persimpangan.
Gamelan Sunda datang dengan susunan melodi, embat, dan resonansinya. Gong Kebyar Bali membawa karakter penyetelan, jalinan ritmis, serta tenaga musikal yang berbeda. Nada tumbuk memberi tempat bagi keduanya untuk masuk ke dalam satu komposisi.
Pengalaman mendengar menjadi dasar penciptaannya.
Ojang Cahyadi membaca jarak antarnada melalui telinga, lalu mengembangkannya menjadi hubungan musikal. Bunyi tunggal berubah menjadi pola. Pola berkembang menjadi bagian. Bagian-bagian itu kemudian disusun menjadi perjalanan pertunjukan.
Yang mencuri perhatian justru berasal dari proses yang sangat kecil: satu nada dibunyikan, dibandingkan, kemudian ditemukan pasangannya.
Dari tindakan mendengar itu, dua tradisi mulai berbicara.
Tataluan Membuka Ruang Pertunjukan
Tiga pasangan nada tersebut diarahkan menuju bentuk tataluan.
Dalam pertunjukan wayang golek Sunda, tataluan hadir sebelum cerita dimainkan. Tabuhan gamelan memberi tanda bahwa pergelaran segera dimulai.
Penonton yang semula berbincang mulai mengarahkan perhatian ke panggung. Suasana sehari-hari beralih menjadi suasana pertunjukan. Musik mengumpulkan tubuh dan kesadaran penonton sebelum dalang menghadirkan tokoh-tokohnya.
Proposal penelitian menjelaskan tatalu sebagai gending pembuka yang menandai hadirnya sebuah perhelatan seni. Karya ini disusun untuk menghadirkan suasana pra-pertunjukan wayang golek Sunda melalui gamelan pelog-salendro dan Gong Kebyar Bali.
Tataluan dalam karya ini tetap menjalankan fungsi panggilannya.
Gamelan Sunda menjaga hubungan dengan dunia wayang golek. Gong Kebyar Bali memperluas energi dan warna ritmisnya. Da, na, dan ti menjadi jalan menuju dang, ding, dan dong.
Pertemuan dua bahasa nada itu membuat pembukaan pertunjukan terasa sebagai pengalaman lintas bunyi.
Dua Watak Gamelan dalam Satu Sajian
Gamelan Sunda membawa ingatan terhadap suasana pertunjukan Jawa Barat.
Pola melodinya dekat dengan wayang golek, tari, kiliningan, dan bentuk-bentuk karawitan Sunda. Setiap tabuhan membangun ruang bagi gerak wayang, ucapan dalang, dan perubahan suasana cerita.
Gong Kebyar Bali membawa karakter yang berbeda.
Permainannya memiliki tenaga kuat, aksen yang jelas, perubahan tempo, serta hubungan antarinstrumen yang rapat. Satu pola dapat segera dijawab oleh pola lain sehingga musik terasa bergerak dengan cepat.
Ketika kedua perangkat dimainkan bersama, para pemain perlu membangun cara mendengar yang lebih luas.
Setiap orang memegang satu bagian. Pada saat yang sama, ia perlu mengikuti gerak seluruh ansambel. Sebuah pukulan memperoleh arti melalui bunyi yang muncul sebelum dan sesudahnya.
Proposal penelitian memberi ruang kepada hampir seluruh waditra dalam proses penggarapan. Peran gamelan Sunda dan Gong Kebyar disusun untuk membentuk kesatuan bunyi dalam sajian pra-pertunjukan wayang golek.
Sebagian instrumen membawa melodi. Sebagian menjaga alur ritmis. Instrumen lain memberi tekanan, menghubungkan bagian, atau menandai perubahan suasana.
Hasilnya tumbuh sebagai percakapan musikal.
Gamelan Sunda membuka sebuah kalimat. Gong Kebyar memberi jawaban. Keduanya bertemu pada nada tertentu, lalu bergerak menuju karakter bunyinya masing-masing.
Ojang Menata Bunyi, Deden Membaca Dramatiknya
Penciptaan karya ini berkembang melalui tiga bidang seni pertunjukan.
Ojang Cahyadi, S.Sn., M.Pd. memusatkan perhatian pada laras, susunan nada, karakter waditra, pola tabuhan, dan hubungan antara dua perangkat gamelan. Penemuan nada 1, 3, dan 4 menjadi dasar untuk menyusun jalur komposisi.
Dr. Deden Haerudin, S.Sn., M.Sn. memberi masukan pada dramatik musik dan bentuk penyajiannya.

Perannya memiliki kedekatan dengan kerja penyutradaraan, khususnya dalam membaca perjalanan musikal sebagai sebuah pertunjukan. Ia memperhatikan cara musik membuka suasana, membangun ketegangan, mengatur perpindahan bagian, serta membawa pendengar menuju puncak dan penutup.
Dalam posisi itu, musik dipahami sebagai rangkaian peristiwa.
Sebuah bagian membutuhkan alasan untuk muncul. Perubahan tempo perlu memiliki dorongan dramatik. Aksen perlu hadir pada saat yang tepat. Perpindahan dari gamelan Sunda menuju Gong Kebyar juga perlu terasa sebagai perjalanan yang dapat diikuti pendengar.
Masukan dari wilayah teater membantu komposisi memiliki arah pertunjukan.
Musik kemudian bergerak sebagai pengalaman waktu: ada pembukaan, perkembangan, perubahan tenaga, pertemuan, dan penyelesaian.
Endik Guntaris, S.Pd., M.Pd. membawa hubungan musik dengan tubuh dan tari. Irama dibaca melalui tenaga pemain. Tempo hadir dalam gerak tangan. Aksen menghasilkan dorongan fisik. Perubahan dinamika ikut mengubah kualitas kehadiran ansambel.
Ketiga bidang itu membentuk satu kesatuan.
Ojang menata bunyi. Deden membaca dramatik musiknya. Endik menghubungkan irama dengan tubuh pemain.
Tiga Puluh Tiga Mahasiswa Menjadi Tubuh Komposisi
Sebanyak 33 mahasiswa Pendidikan Tari menjadi bagian utama penyajian karya. Ojang Cahyadi dan Endik Guntaris ikut berada di dalam formasi pemain.
Kehadiran dosen bersama mahasiswa membentuk pengalaman belajar yang langsung.
Arahan diberikan melalui contoh tabuhan. Koreksi terjadi ketika pola dimainkan. Perubahan tempo dirasakan bersama. Mahasiswa memahami komposisi melalui pengulangan, pendengaran, dan ingatan tubuh.
Setiap pemain membawa satu potongan dari susunan yang lebih besar.
Seorang mahasiswa perlu mengetahui waktu untuk masuk, menahan pukulan, memperkuat aksen, dan memberi ruang kepada instrumen lain. Ketepatan muncul melalui hubungan dengan seluruh kelompok.
Permainan gamelan menuntut perhatian yang bergerak ke dua arah.
Pemain mendengarkan dirinya sendiri, lalu mendengarkan ansambel. Ia menjaga pola pribadi sambil membaca perubahan tenaga kelompok.
Bagi mahasiswa Pendidikan Tari, pengalaman tersebut memperluas pemahaman mengenai iringan.
Dalam latihan tari, musik sering hadir sebagai sesuatu yang direspons oleh tubuh. Dalam penelitian ini, mahasiswa ikut menghasilkan musik itu. Tubuh mereka menjadi tenaga yang menghidupkan waditra.
Tangan memukul instrumen. Bahu mengatur kekuatan. Napas mengikuti tempo. Mata membaca tanda dari pemain lain.
Musik dipelajari melalui pengalaman kinestetik.
Komposisi Tumbuh melalui Kerja Studio
Proposal penelitian menggunakan tahapan penciptaan berupa penyusunan gagasan isi, pengembangan ide garapan, penentuan bentuk, dan kerja studio.
Kerja studio bergerak melalui eksplorasi, improvisasi, pembentukan komposisi, evaluasi, serta penampilan karya.
Eksplorasi menjadi ruang pencarian.
Para pemain mencoba nada, pola ritmis, tempo, melodi, dan hubungan antarwaditra. Da–dang, na–ding, dan ti–dong diuji dalam berbagai susunan.
Improvisasi memberi ruang bagi respons spontan.
Pola dari gamelan Sunda dapat memancing jawaban dari Gong Kebyar. Sebuah aksen pendek dapat berkembang menjadi bagian yang lebih panjang. Respons pemain memberi bahan baru bagi susunan komposisi.
Tahap pembentukan menyatukan berbagai temuan.
Bagian-bagian dipilih, diurutkan, diulang, dan diperbaiki. Para pemain mulai mengenali struktur karya. Perjalanan musikal perlahan memperoleh bentuk dari awal hingga akhir.
Di dalam proses itu, penelitian seni berlangsung melalui bunyi.
Latihan menjadi ruang pengujian. Tubuh pemain menjadi medium. Pendengaran menjadi alat analisis. Pertunjukan menjadi saat ketika seluruh hasil pencarian hadir sebagai pengalaman bersama.
Dari Tatalu Menuju Wawayangan
Struktur garapan terdiri atas tatalu, bendrong, dan wawayangan.
Tatalu membuka ruang pertunjukan dan mengumpulkan perhatian.
Bendrong mempertemukan warna gaya Priangan dan Cirebonan.
Wawayangan membawa komposisi menuju pola garap yang berhubungan dengan gaya Priangan dan Bogoran.
Tiga bagian tersebut membentuk perjalanan musikal.
Tatalu hadir sebagai panggilan. Bendrong memperluas medan bunyi. Wawayangan mendekatkan pendengar pada suasana wayang golek.
Dramatik musik bekerja melalui perpindahan itu.
Tenaga pertunjukan dibangun secara bertahap. Perubahan bagian memberi pengalaman waktu. Gamelan Sunda menjaga arah melodi dan konteks wayang, sedangkan Gong Kebyar menghadirkan aksen serta dorongan ritmis.
Da bertemu dang. Na bertemu ding. Ti bertemu dong.
Tiga hubungan tersebut menjadi poros yang membantu dua perangkat bergerak di dalam satu sajian.
Tradisi Bergerak melalui Tubuh Pemain
Gamelan Sunda dan Gong Kebyar Bali membawa sejarah musikal dari lingkungan budaya masing-masing.
Di Studio Iringan Tari UNJ, sejarah itu hadir melalui tindakan hari ini.
Mahasiswa memukul instrumen, mengenali resonansi, mengingat pola, dan membangun kesatuan kelompok. Para dosen menyumbangkan pengetahuan dari musik, teater, dan tari.
Tradisi bergerak dari konsep menuju tubuh.
Notasi memberi nama pada nada. Instrumen menghadirkan bunyinya. Pemain memberi tenaga. Dramatik musik menyusun arahnya. Ansambel membentuk pengalaman pertunjukan.
Pertemuan Sunda dan Bali juga membuka cara baru untuk mendengar keduanya.
Karakter setiap gamelan tetap terasa. Komposisi memberi ruang agar perbedaan itu membangun hubungan.
Dari Tiga Nada Menuju Satu Panggung
Penelitian ini diarahkan untuk menghasilkan karya pertunjukan, dokumentasi notasi, rekaman, dan perlindungan hak kekayaan intelektual. Karya juga disiapkan sebagai materi pertunjukan di lingkungan kampus dan ruang seni yang lebih luas.
Notasi menyimpan struktur karya. Rekaman menjaga jejak bunyinya. Pertunjukan menghidupkan komposisi melalui tubuh para pemain.
Pengalaman utamanya telah berlangsung di dalam studio.
Sebanyak 33 mahasiswa bersama Ojang Cahyadi, S.Sn., M.Pd. dan Endik Guntaris, S.Pd., M.Pd. memainkan komposisi yang bermula dari pengalaman mendengar tiga nada. Dr. Deden Haerudin, S.Sn., M.Sn. membantu membentuk perjalanan dramatik musiknya agar pertemuan bunyi berkembang menjadi sajian pertunjukan.
Dalam bahasa notasi Sunda, tiga nada itu dibaca da, na, dan ti.
Dalam penyebutan Bali, pasangannya hadir sebagai dang, ding, dan dong.
Dari tiga titik tersebut, gamelan Sunda dan Gong Kebyar Bali menemukan jalur untuk bergerak bersama.
Tataluan kemudian menjalankan perannya: mengumpulkan perhatian, membuka ruang imajinasi, dan memberi tanda bahwa pertunjukan siap dimulai.