Manuk Banjar Hadir dalam Wajah Baru, 21 Remaja Desa Bulak Menari dalam Irama Pantura

Program pengabdian kepada masyarakat Manuk Banjar menghadirkan tarian dan lagu baru bersama remaja Desa Bulak. Sebanyak 21 penari membawa cerita lokal ke atas panggung lewat gerak yang lincah, musik Pantura, dan energi khas anak muda.

BULAK — Manuk Banjar hadir dengan suasana baru di Desa Bulak. Sebanyak 21 remaja tampil membawakan tarian yang dikembangkan dari ingatan budaya lokal, lalu dipertemukan dengan ritme dan karakter gerak Pantura. Mereka tidak sekadar menghafal susunan tari, tetapi ikut mengalami proses latihan, membangun kekompakan, dan memberi tenaga baru pada cerita yang tumbuh di lingkungan mereka.

Pementasan ini menjadi bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang diketuai Dr. Deden Haerudin, M.Sn. Tim pengabdian juga melibatkan Ojang Cahyadi, M.Pd., Dr. Fachri Helmanto, M.Pd., Indra Permadi Mayada, Cantika Ramadani, dan Syifa Fitri Ramadhani.

Kegiatan dibuka oleh Kuwu Desa Bulak, Meidin, bersama Kepala Kelompok Sadar Wisata Desa Bulak, Drs. Saepudin, M.A.. Kehadiran pemerintah desa dan Pokdarwis membuat Manuk Banjar terhubung langsung dengan kehidupan budaya serta pengembangan wisata Desa Bulak. Panggung hari itu menjadi tempat bertemunya seniman, warga, pemerintah desa, dan para remaja yang akan membawa tradisi tersebut ke masa berikutnya.

Nuansa Pantura memberi warna baru tanpa memutus hubungan dengan sumber lokalnya. Manuk Banjar kembali hadir, kali ini melalui energi para remaja yang membuat tradisi tersebut terasa hidup, dekat, dan punya masa depan.

Ketika Manuk Banjar Bertemu Energi Anak Muda

Dalam versi terbaru ini, Manuk Banjar dibawakan dengan karakter yang lebih dekat dengan suasana Pantura. Irama musik terdengar hidup, perpindahan gerak terasa cepat, dan pola kelompok memberi ruang bagi para penari untuk saling merespons. Dua puluh satu remaja bergerak bersama dalam komposisi yang menampilkan kelincahan dan semangat komunal masyarakat pesisir.

See also  Dian Terbiasa Serimpi, Lalu Bertemu Riuh Manuk Banjar

Bagi para peserta, Manuk Banjar tidak lagi hanya menjadi nama tradisi yang pernah mereka dengar. Mereka mengenalnya melalui latihan, hitungan gerak, musik, kelelahan, tawa, dan momen ketika seluruh penari akhirnya dapat bergerak dalam tempo yang sama. Pengalaman semacam itu membuat tradisi terasa lebih dekat karena masuk melalui tubuh dan kebersamaan.

Setiap penari membawa pengalaman yang berbeda. Namun, di atas panggung, pengalaman itu bertemu dalam satu susunan gerak. Ada bagian yang menuntut ketepatan, ada bagian yang membutuhkan energi, dan ada pula momen ketika ekspresi para penari membuat suasana Pantura terasa kuat.

Lagu Baru Membawa Cerita Desa Bulak

Pementasan Manuk Banjar juga diperkuat oleh lagu baru tentang Desa Bulak. Liriknya ditulis Dr. Deden Haerudin, M.Sn. bersama Kang Asep, sedangkan aransemen musik digarap Kang Asep. Dalam dokumen lagu, nama Dr. Deden Haerudin, M.Sn. ditulis sebagai Deden Rangga.

Lagu tersebut membawa cerita tentang Desa Bulak sebagai desa wisata mandiri yang memiliki jejak sejarah, kegiatan pertanian, budaya, dan ekonomi kreatif. Nama Pangeran Suryanegara dan Buyut Bulak hadir dalam lirik, berdampingan dengan ajakan menjaga desa, bekerja bersama, mengolah tanah, dan membangun kehidupan yang makmur.

Lagu itu membuat panggung terasa semakin dekat dengan Desa Bulak. Sejarah, sawah, kehidupan warga, dan harapan tentang masa depan masuk ke dalam pertunjukan. Musik kemudian tidak hanya mengiringi gerak, tetapi ikut mengenalkan siapa masyarakat Desa Bulak dan hal-hal yang mereka jaga.

Latihan yang Membentuk Keberanian

Dr. Deden Haerudin, M.Sn. menjelaskan bahwa keterlibatan remaja menjadi bagian penting dalam proses penciptaan. Para peserta mempelajari pola gerak sekaligus mengalami sendiri cara budaya lokal dapat ditampilkan kembali melalui tubuh mereka.

See also  Ketika Babi Ngepet Punya Aplikasi, Warga Rusun Ikut Bergoyang

Proses latihan berjalan melalui pengulangan. Para peserta belajar mengingat urutan, menyamakan tempo, memperbaiki posisi, dan menyesuaikan tenaga dengan penari lain. Dari sana, kekompakan tumbuh sedikit demi sedikit.

Latihan juga menjadi tempat bagi peserta untuk membangun keberanian tampil. Sebagian mungkin sudah terbiasa berada di panggung, sementara yang lain masih perlu mengatasi rasa gugup. Ketika akhirnya tampil bersama, keberanian itu terasa sebagai hasil dari proses yang mereka jalani sebagai kelompok.

Tradisi yang Tetap Bergerak

Kuwu Desa Bulak, Meidin, S.IP, menyambut kegiatan tersebut sebagai bagian dari penguatan aktivitas budaya desa. Saepudin melihat keterlibatan remaja sebagai unsur penting dalam memperkenalkan potensi budaya dan wisata Desa Bulak kepada masyarakat yang lebih luas.

Pementasan Manuk Banjar memperlihatkan bahwa tradisi dapat terus hidup ketika generasi muda memperoleh ruang untuk masuk ke dalamnya. Bentuk lama tetap menjadi pijakan, sementara gerak, musik, dan cara penyajiannya dapat berkembang mengikuti pengalaman masyarakat hari ini.

Bagi 21 remaja Desa Bulak, pelestarian berlangsung melalui hal yang sangat nyata: datang latihan, mengingat gerak, mendengar musik, bergerak bersama, lalu tampil di hadapan warga. Dari proses itu, Manuk Banjar berpindah dari ingatan budaya menjadi pengalaman bersama. (Wuwuh Andayani)