Sebelum Lomba Dimulai, Warga Cilebut Sudah Lebih Dulu Turun Tangan

Sore menjelang perayaan 17 Agustus di RT 08 RW 07, Cilebut Barat, Sukaraja, Kabupaten Bogor, belum ada lomba makan kerupuk, belum ada teriakan penonton, dan belum ada hadiah yang dipajang. Yang terlihat justru beberapa warga mendorong gerobak berisi tenda dan perlengkapan milik RT.

Gerobak itu bergerak pelan menuju lokasi acara. Beberapa orang mendorong dari belakang, sementara warga lain sudah sibuk menyiapkan tempat. Tiang tenda mulai dipasang, ornamen merah putih dirapikan, perlengkapan dipindahkan, dan sudut-sudut lokasi perlahan berubah menjadi ruang perayaan.

Persiapan itu digawangi Ketua RT 08 RW 07, Zaki. Namun pekerjaan tidak berhenti pada pengurus RT. Warga ikut terlibat aktif, dari anak-anak berusia sekitar sembilan tahun sampai warga berusia lebih dari 63 tahun.

Ada yang membawa barang. Ada yang memegang tiang. Ada yang memasang hiasan. Ada pula yang mengambil pekerjaan kecil yang sering tidak terlihat ketika acara sudah ramai.

Umur Berbeda, Pekerjaannya Sama-sama Penting

Pemandangan sore itu menarik karena jarak usia lebih dari setengah abad seperti kehilangan arti untuk beberapa jam.

Anak berusia sembilan tahun tentu tidak akan mengangkat beban yang sama dengan orang dewasa. Warga berusia lebih dari 63 tahun juga tidak harus mengambil pekerjaan yang membutuhkan tenaga besar. Namun semua masih bisa ikut mengambil bagian.

Ada pekerjaan yang membutuhkan tenaga. Ada pekerjaan yang membutuhkan ketelitian. Ada pula pekerjaan sederhana seperti mengambil barang, merapikan sudut lokasi, atau membantu orang lain menyelesaikan tugas.

Perayaan 17 Agustus kemudian menjadi semacam tempat pertemuan antargenerasi. Anak-anak melihat langsung bagaimana sebuah acara disiapkan. Orang dewasa mengatur pekerjaan. Warga yang lebih tua membawa pengalaman dari perayaan sebelumnya.

See also  Raka, Gitar, dan Emosi yang Menari dalam Abu-Abu yang Memudar

Budaya ternyata tidak selalu diwariskan lewat nasihat.

Kadang budaya diwariskan ketika seorang anak melihat orang dewasa mengangkat tiang, lalu ikut mengambil tali yang tergeletak di dekat kakinya.

Sebelum Ada Lomba, Ada Kerja yang Jarang Terlihat

Banyak orang mengingat 17 Agustus lewat bagian yang paling seru. Balap karung, makan kerupuk, tarik tambang, hadiah, musik, atau teriakan penonton biasanya lebih mudah tinggal dalam ingatan.

Namun sebuah perayaan tidak muncul begitu saja.

Tenda harus dipindahkan. Lokasi harus disiapkan. Ornamen harus dipasang. Perlengkapan harus dibawa. Seseorang harus memikirkan di mana barang diletakkan dan siapa yang mengerjakan bagian tertentu.

Pekerjaan seperti itu jarang menjadi bagian paling menarik dalam dokumentasi acara. Kamera biasanya baru ramai ketika perlombaan dimulai.

Padahal sebelum peserta pertama berdiri di garis start, sudah ada cukup banyak orang yang lebih dahulu berkeringat.

Di RT 08 RW 07, salah satu gambaran paling sederhana justru datang dari gerobak yang digunakan untuk membawa tenda dan fasilitas RT. Gerobak itu didorong bersama menuju lokasi.

Tidak megah. Tidak pula dramatis seperti adegan pembukaan sebuah festival.

Namun tanpa perjalanan kecil itu, mungkin tidak ada tempat teduh untuk warga berkumpul beberapa jam kemudian.

Malam Dimulai dari Tumpeng

Setelah persiapan sore selesai, rangkaian perayaan pada malam hari diawali dengan pemotongan tumpeng.

Tumpeng membuat perayaan tidak langsung meloncat ke lomba dan hiburan. Ada jeda ketika warga berkumpul, makanan ditempatkan di tengah, dan perhatian tertuju pada satu benda yang akan dipotong bersama.

Dalam banyak kegiatan masyarakat, tumpeng memang lekat dengan momen syukuran. Bentuknya mudah dikenali dan kehadirannya sering menandai bahwa sebuah peristiwa dianggap cukup penting untuk dirayakan bersama.

See also  Gelas Kertas Membawa Cerita Mahasiswa UMT di UNJ

Pada malam 17 Agustus, tumpeng juga membawa perayaan kemerdekaan ke ukuran yang lebih dekat.

Kemerdekaan yang biasanya dibicarakan lewat sejarah nasional, upacara, atau pidato berubah menjadi meja makan, tetangga, anak-anak, orang tua, dan satu lingkungan kecil yang berkumpul pada malam yang sama.

Barangkali justru di situ perayaan terasa lebih mudah dipahami.

Negara adalah sesuatu yang besar. RT adalah sesuatu yang bisa didatangi dengan sandal.

Kultur yang Hidup karena Dikerjakan

Perayaan 17 Agustus di lingkungan warga sering disebut tradisi. Namun kata “tradisi” kadang membuat sebuah kegiatan terdengar seperti sesuatu yang otomatis berlangsung setiap tahun.

Padahal tidak ada yang benar-benar otomatis.

Tenda tidak memasang dirinya sendiri. Ornamen tidak tiba-tiba menempel. Tumpeng tidak muncul di meja tanpa seseorang yang menyiapkannya. Lomba juga tidak akan berjalan hanya karena tanggal kalender sudah menunjukkan Agustus.

Tradisi tetap hidup karena ada orang yang mau mengerjakannya.

Di sinilah persiapan warga RT 08 RW 07 menjadi menarik sebagai cerita kultur. Yang diwariskan bukan hanya bentuk acaranya, tetapi juga kebiasaan untuk ikut terlibat.

Anak-anak mungkin datang karena ingin ikut lomba. Remaja bisa tertarik karena suasananya ramai. Orang dewasa sibuk menyiapkan kegiatan. Warga yang lebih tua tetap hadir karena perayaan semacam ini sudah menjadi bagian dari kehidupan lingkungan.

Motifnya boleh berbeda.

Namun sore itu, semua motif bertemu pada tempat yang sama.

Kemerdekaan yang Tidak Berdiri Sendiri

Ketika acara berlangsung nanti, perhatian akan mudah tertuju pada bagian yang tampak meriah. Bendera merah putih, tumpeng, peserta lomba, hadiah, dan foto bersama akan menjadi wajah perayaan.

Namun persiapan beberapa jam sebelumnya menyimpan cerita lain.

See also  57 Mahasiswa Baru Mulai Mengenal Rumahnya di PGSD

Ada warga yang datang untuk memasang tenda. Ada anak-anak yang ikut membantu. Ada orang berusia lebih dari 63 tahun yang masih mengambil bagian. Ada pengurus RT yang mengoordinasikan pekerjaan. Ada pula gerobak yang harus didorong karena perlengkapan RT tidak mungkin sampai ke lokasi dengan sendirinya.

Mungkin itulah salah satu alasan perayaan 17 Agustus terus bertahan di banyak lingkungan.

Orang datang untuk merayakan kemerdekaan, tetapi tanpa terlalu disadari mereka juga sedang belajar bergantung satu sama lain.

Ketika malam tiba, tenda sudah berdiri. Ornamen sudah terpasang. Tumpeng siap dipotong.

Gerobaknya tinggal di pinggir.

Tidak banyak yang akan memperhatikannya lagi.