Apa hubungan linguistik dengan foto banjir, peta tsunami, arsip gempa, atau dokumentasi letusan gunung? Pertanyaan seperti itu muncul pada hari kedua Visiting Program 2026 Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, Rabu, 12 Agustus 2026. Setelah sehari sebelumnya peserta bertemu dengan pembicaraan tentang ecolinguistics, AI-IDLE, dan kehidupan bahasa di ruang digital, agenda kali ini bergerak ke meja yang lebih kecil melalui research clinic. Mahasiswa datang membawa riset yang sedang mereka kerjakan. Belum semuanya selesai. Justru bagian yang masih rumit itulah yang dibuka untuk dibicarakan bersama.

Salah satu riset yang masuk ke meja diskusi datang dari Stella Sigrid Juliet, mahasiswa Doktor Linguistik Terapan UNJ. Ia sedang mengembangkan A Conceptual Metaphor-Based Multimodal Disaster Text Model for Expert Archivists. Di tangannya, arsip bencana tidak berhenti sebagai kumpulan dokumen masa lalu. Laporan, foto, peta, poster, infografik, pameran arsip, portal digital, hingga dokumentasi audiovisual dibaca sebagai teks yang ikut menentukan bagaimana sebuah bencana dipahami dan diingat. Risetnya mencoba melihat bagaimana metafora konseptual hadir melalui berbagai bentuk tersebut, lalu mencari kemungkinan menyusunnya menjadi model komunikasi bagi arsiparis ahli.
Begitu penelitian dibuka, persoalannya cepat melebar. Stella mempertemukan Conceptual Metaphor Theory, Multimodal Discourse Analysis, komunikasi bencana, dan kajian kearsipan dalam satu rancangan. Pilihan itu membuat diskusi dengan Dr. Lee Ju Seong bergerak ke pertanyaan yang sangat dekat dengan kegelisahan mahasiswa doktoral. Apakah semua teori itu benar-benar dibutuhkan? Apa yang sebenarnya menjadi unit analisis? Bagaimana membuktikan bahwa model akhir tumbuh dari temuan empiris dan bukan terutama dari desain peneliti? Bahkan ada pertanyaan yang lebih mendasar. Dengan begitu banyak disiplin yang bertemu, di mana penelitian tersebut berdiri sebagai sebuah disertasi Linguistik Terapan? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang memang telah disiapkan Stella untuk dibawa ke sesi klinik.
Di ruang seperti ini, riset terlihat dalam bentuk yang jarang muncul ketika sudah menjadi artikel jurnal atau disertasi selesai. Ada ide yang terasa menjanjikan, ada teori yang tampaknya cocok, lalu muncul persoalan ketika semuanya harus bertemu pada data yang sama. Sebuah foto bencana, misalnya, dapat dibaca sebagai arsip, sebagai objek visual, sebagai bagian dari komunikasi risiko, sekaligus sebagai pembentuk makna. Tantangannya kemudian bukan menambah sebanyak mungkin perspektif, melainkan menentukan hubungan yang cukup jelas di antara perspektif tersebut. Research clinic memberi tempat bagi percakapan semacam itu sebelum mahasiswa terlanjur berjalan terlalu jauh dengan desain yang terlalu lebar.
Hari kedua ini sekaligus memperlihatkan karakter yang sedang dibangun Program Magister dan Doktor Linguistik Terapan UNJ. Di bawah koordinasi Prof. Dr. Endry Boeriswati, M.Pd., dua jenjang Linguistik Terapan tersebut berada dalam satu kepemimpinan program studi. Struktur resmi Sekolah Pascasarjana UNJ mencatat Prof. Endry sebagai Koordinator Program Magister dan Doktor Linguistik Terapan. Yang terasa dari research clinic bukan keseragaman tema mahasiswa, melainkan luasnya persoalan yang dapat masuk selama pertanyaan kebahasaannya tetap dapat dipertanggungjawabkan.
Itu pula yang membuat riset Stella menarik untuk dibawa ke forum ini. Ia datang dari wilayah yang sekilas lebih dekat dengan kearsipan dan kebencanaan, tetapi kemudian berhadapan dengan pertanyaan tentang metafora, representasi, multimodalitas, dan pembentukan makna. Lingkungan akademik LT memberi ruang agar persinggungan seperti itu tidak segera dipotong. Mahasiswa justru harus menunjukkan mengapa pilihan lintas bidang tersebut diperlukan. Pada Program Magister Linguistik Terapan UNJ, misalnya, kurikulumnya memuat kajian bahasa dan media, literasi digital, analisis wacana kritis, metodologi penelitian, hingga pengembangan inovasi hasil penelitian. Ruang lingkup semacam itu memberi petunjuk mengapa penelitian tentang arsip, media, dan representasi masih dapat menemukan rumah akademiknya di Linguistik Terapan.
Capaian prodinya memberi lapisan lain pada cerita tersebut. Data resmi Sekolah Pascasarjana UNJ menunjukkan Program Magister Linguistik Terapan saat ini berstatus akreditasi Unggul hingga November 2028, sementara Program Doktor Linguistik Terapan berstatus Unggul hingga Maret 2030. Angka akreditasi tentu hanya satu bagian dari kehidupan sebuah program studi. Pada sesi seperti research clinic, capaian itu terlihat dalam bentuk yang lebih konkret. Mahasiswa memperoleh kesempatan membawa penelitian yang masih penuh pertanyaan ke hadapan akademisi internasional, lalu menggunakannya untuk mempertajam arah disertasi.
Bagi Prof. Endry dan Linguistik Terapan UNJ, tantangannya justru berada di sana. Mahasiswa datang dengan minat yang semakin beragam. Ada bahasa dan pendidikan, media, teknologi, budaya, sampai penelitian seperti Stella yang masuk ke wilayah arsip dan komunikasi bencana. Mengakomodasi keragaman itu berarti membuka ruang eksperimen sekaligus menjaga agar penelitian tetap memiliki disiplin metodologis. Research clinic hari kedua memperlihatkan keduanya berjalan bersamaan. Ide diberi tempat untuk tumbuh, tetapi setiap pilihan tetap harus berani menerima pertanyaan.
Menjelang diskusi bergerak lebih dalam, riset Stella masih berada pada tahap proposal dan pengembangan model. Kerangka awalnya telah merumuskan arsip sebagai memori ekologis kolektif, metafora konseptual sebagai mekanisme pemetaan kognitif, multimodalitas sebagai proses transformasi semiotik, dan literasi adaptasi ekologis sebagai luaran komunikasi. Semua itu masih dapat berubah setelah berhadapan dengan data dan kritik metodologis. Dan mungkin justru itu bagian paling penting dari klinik pagi tersebut. Penelitian tidak datang untuk dipamerkan sebagai sesuatu yang sudah sempurna. Ia datang agar dapat dibongkar sebelum dibangun kembali dengan lebih kuat.
Hari kedua Visiting Program 2026 akhirnya memberi gambaran yang berbeda tentang belajar di Linguistik Terapan UNJ. Ada mahasiswa yang datang membawa arsip bencana, ada akademisi tamu yang membantu menguji desainnya, dan ada program studi yang memberi ruang agar penelitian lintas bidang dapat berkembang tanpa kehilangan pijakan. Bagi mahasiswa yang membayangkan Linguistik Terapan hanya berkutat pada tata bahasa atau pengajaran bahasa, pemandangan pagi itu menawarkan cerita lain. Bahasa bisa ditemukan di layar, di media, di arsip, bahkan di cara sebuah masyarakat mengingat bencana. Pertanyaannya tinggal seberapa jauh peneliti berani masuk dan seberapa kuat ia dapat menjelaskan jalannya.