Tari Manuk Banjar tampil di tengah kemeriahan Jalan Sehat Desa Bulak, Jatibarang, Indramayu, Rabu (12/8/2026), sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Ratusan warga dari berbagai usia berada di sekitar arena ketika para penari muncul dengan kostum bernuansa biru, selendang, dan kacamata hitam yang menjadi salah satu ciri penampilan tari tersebut. Musik bernuansa Pantura membuat suasana pagi bergerak semakin ramai. Warga yang semula mengikuti kegiatan jalan sehat kemudian berhenti, mendekat, dan menyaksikan Manuk Banjar secara langsung.

Dari Jalan Sehat ke Arena Tari
Kegiatan jalan sehat mempertemukan Manuk Banjar dengan penonton yang lebih beragam. Anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga warga lanjut usia berada dalam satu ruang yang sama. Sebagian berdiri di sisi arena, sebagian duduk sambil menyaksikan, dan beberapa warga memilih mendekat ketika musik mulai terdengar. Pementasan ini menjadi salah satu kesempatan bagi Manuk Banjar untuk dikenalkan lebih luas kepada masyarakat Desa Bulak setelah sebelumnya berkembang melalui proses latihan bersama para remaja.

Manuk Banjar merupakan karya yang digagas Dr. Deden Haerudin melalui proses penggalian budaya Desa Bulak dan kemudian dikembangkan bersama tim. Dalam proses awalnya, pembacaan terhadap cerita warga, ruang hidup, Situs Buyut Banjar, Cimanuk, Mangga Gedong Gincu, hingga jejak budaya setempat ikut menjadi bahan penciptaan. Pada pementasan kali ini, proses panjang tersebut hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana di hadapan warga: kostum biru, selendang, gerak yang lincah, dan kacamata hitam yang mudah menarik perhatian.
Sawer Membuat Suasana Makin Cair
Kemeriahan semakin terasa ketika sejumlah warga mulai memberikan sawer kepada para penari. Beberapa di antaranya ikut bergerak mengikuti irama sambil menyerahkan uang. Respons tersebut membuat jarak antara penari dan penonton menjadi lebih tipis. Manuk Banjar tidak hanya ditonton dari kejauhan, tetapi juga mendapat tanggapan langsung dari warga yang ikut masuk ke dalam suasana pertunjukan.
Sawer menjadi salah satu momen yang paling mudah terlihat dalam pementasan itu. Ketika musik terus berjalan, penari tetap menjaga gerak dan formasi, sementara warga merespons dengan cara yang akrab dalam suasana pertunjukan rakyat. Di tengah rangkaian peringatan kemerdekaan, tari tersebut hadir sebagai bagian dari kegembiraan bersama dan menyatu dengan suasana jalan sehat yang sejak awal mempertemukan warga.

Lagu Desa Bulak Terdengar di Tengah Warga
Iringan Manuk Banjar ikut menguatkan hubungan antara pertunjukan dan tempatnya. Lirik lagu menyebut Desa Bulak sebagai desa wisata mandiri, petilasan bersejarah, budaya, ekonomi kreatif, pertanian, hingga kehidupan masyarakat yang makmur. Pada bagian lain muncul ajakan kepada warga untuk hidup guyub, bekerja bersama, menjaga desa, dan membangun Desa Bulak.
Ketika lagu itu terdengar di hadapan warga Desa Bulak sendiri, pertunjukan terasa semakin dekat. Warga mendengar cerita tentang tempat yang mereka kenal sambil melihat para remaja desa menarikan Manuk Banjar. Musik, gerak, kostum, dan lirik bertemu dengan suasana peringatan kemerdekaan yang sejak pagi telah mengumpulkan banyak orang.
Zahra Senang Penonton Ikut Terhibur
Zahra, salah satu penari Manuk Banjar, menikmati suasana itu terutama ketika melihat warga ikut terhibur oleh penampilan mereka. Ia merasa lagu yang mengiringi tari mudah dinikmati dan membuat suasana pertunjukan semakin hidup.
“Sukaa banget, happy orang-orang terhibur sama lagunya karena enak. Intinya lagunya sama tarinya bagus banget,” ujar Zahra.
Bagi Zahra, pengalaman tampil di tengah keramaian jalan sehat memberi rasa yang berbeda dari latihan. Penonton hadir dekat dengan para penari, musik terdengar di tengah kerumunan, dan respons warga muncul langsung melalui tepuk tangan, sawer, hingga orang-orang yang ikut bergerak. Kesenangan Zahra muncul dari melihat tari yang selama ini mereka latih dapat dinikmati bersama oleh warga.
Pementasan dalam rangka peringatan kemerdekaan itu membuat Manuk Banjar semakin dekat dengan ruang publik Desa Bulak. Tari yang sebelumnya tumbuh melalui riset, penciptaan, dan latihan kini hadir dalam suasana yang lebih terbuka, disaksikan berbagai generasi, mendapat sawer, dan bahkan ikut ditarikan bersama warga. Di tengah kemeriahan 17 Agustus, karya yang digagas Dr. Deden Haerudin itu mulai dikenal melalui cara yang paling sederhana: warga melihatnya, mendengar lagunya, lalu ikut menikmati suasananya.