Sebelum Kuliah Dimulai, Jaka dan Iman Sudah Punya Pertanyaan tentang Tesis

Dua mahasiswa asal Tanzania duduk di ruang Program Studi Magister dan Doktor Linguistik Terapan Universitas Negeri Jakarta, Kamis, 30 Juli 2026. Semester pertama belum dimulai, tetapi percakapan sudah sampai pada pertanyaan yang biasanya membuat mahasiswa pascasarjana lama terdiam: apa yang sebenarnya ingin diteliti?

Jacob Costantino Daniel membawa perhatian pada bahasa pengantar di perguruan tinggi. Emmanuel Enos Ngula tertarik pada pengalaman guru ketika menerapkan pembelajaran bahasa berbasis tugas.

Prof. Dr. Endry Boeriswati, M.Pd., memanggil Jacob dengan nama Jaka dan Emmanuel dengan nama Iman.

Panggilan itu segera membuat percakapan terasa lebih dekat. Jaka dan Iman tidak lagi hanya hadir sebagai dua mahasiswa internasional penerima The Indonesian AID Scholarship. Jaka dan Iman mulai masuk ke lingkungan baru, mengenali orang-orang di dalamnya, lalu perlahan mencari tempat bagi gagasan yang dibawa dari pengalaman masing-masing.

Pertemuan tersebut berlangsung dalam Program Pesantren Prodi S2–S3 Linguistik Terapan UNJ yang digagas Prof. Endry. Namanya memang pesantren, tetapi kegiatan di dalamnya tidak menyerupai kelas dengan satu orang mengajar dan peserta lain mendengarkan.

Yang tampak justru beberapa orang duduk bersama, menyimak, bertanya, menerjemahkan maksud, dan sesekali tertawa ketika percakapan mulai terlalu kaku.

Percakapan Tidak Hanya Berjalan dalam Satu Bahasa

Bahasa Inggris menjadi bahasa utama agar Jaka dan Iman dapat menyampaikan pengalaman serta minat akademik dengan leluasa. Bahasa Indonesia masuk sedikit demi sedikit melalui istilah, sapaan, dan percakapan ringan.

Prof. Endry memahami arah yang hendak dibicarakan. Prof. Endry mengenal kurikulum, pilihan konsentrasi, dan lingkungan akademik yang akan dimasuki Jaka dan Iman. Namun, ketika penjelasan harus disampaikan panjang dalam bahasa Inggris, percakapan kadang memerlukan bantuan.

Dalam situasi seperti itu, Prof. Endry kerap melibatkan mahasiswa.

Biasanya Fachri termasuk mahasiswa yang diminta membantu. Namun, beberapa hari menjelang ujian terbuka promosi doktor pada Senin, 3 Agustus 2026, perhatian Fachri sedang terbagi pada persiapan akademiknya sendiri.

Wuwuh kemudian lebih banyak menjadi tempat bertumpunya percakapan. Wuwuh membantu menyampaikan pertanyaan, menjelaskan istilah dalam kurikulum, serta mengikuti gagasan Jaka dan Iman yang masih bergerak ke berbagai arah.

Satya turut berada di ruangan. Karena tinggal tidak jauh dari kampus, Satya cukup mudah hadir ketika ada kegiatan. Peran Satya tidak mendominasi percakapan, tetapi kehadiran Satya membantu ketika pembicaraan memerlukan tambahan penjelasan.

Dua dosen lain ikut menyimak. Dr. Reni Nur Eriyani, M.Pd., yang memiliki latar keilmuan bahasa Indonesia, beberapa kali masuk ke dalam percakapan. Dr. Anim Purwanto, M.Pd., dengan latar bahasa Jerman, juga ikut menanggapi beberapa bagian.

Reni dan Anim tidak datang untuk mengarahkan pembicaraan menjadi kuliah baru. Reni dan Anim ikut mendengarkan, memberi tanggapan, dan mencairkan suasana ketika pembicaraan tentang kurikulum serta tesis mulai terasa terlalu serius.

See also  Koperasi Merah Putih Mulai Bergerak dari Nama ke Gerai

Di ruangan itu, bahasa tidak hanya menjadi alat untuk menyampaikan informasi. Bahasa juga menentukan apakah seseorang merasa cukup nyaman untuk mengemukakan pertanyaan yang belum rapi.

Iman Mulai dari Pengalaman Guru

Iman tertarik pada task-based language teaching atau pembelajaran bahasa berbasis tugas. Perhatian Iman tertuju pada cara guru bahasa Inggris memahami dan menjalankan pendekatan tersebut di kelas sekolah menengah atas di Jakarta.

Rancangan awal Iman berangkat dari persepsi guru terhadap penerapan pembelajaran berbasis tugas dalam kelas bahasa Inggris sebagai bahasa asing.

Gagasan itu terdengar cukup terarah. Sudah ada pendekatan yang hendak dikaji, kelompok yang ingin didengar, serta konteks sekolah yang dipilih.

Namun, percakapan tidak segera berhenti pada sebuah judul.

Bagaimana guru memaknai “tugas”? Apakah tugas dipahami sebagai latihan yang harus diselesaikan siswa, atau sebagai kegiatan yang mendorong siswa benar-benar menggunakan bahasa? Apa yang terjadi ketika gagasan dalam metode pengajaran bertemu dengan jumlah siswa, waktu belajar, target kurikulum, dan kebiasaan kelas?

Pertanyaan semacam itu membuat minat Iman perlahan bergerak dari nama sebuah metode menuju pengalaman orang yang menerapkannya.

Judul sementara tetap penting sebagai penanda arah. Namun, yang mulai dicari bersama bukan kalimat yang paling terdengar akademik, melainkan pengalaman apa yang sebenarnya ingin dipahami Iman.

Jaka Membawa Pertanyaan tentang Bahasa Pengantar

Jaka melihat persoalan lain.

Jaka tertarik pada penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di perguruan tinggi serta kemungkinan hubungannya dengan kemampuan bahasa Inggris dan daya saing lulusan di kawasan ASEAN.

Sebagai mahasiswa internasional, Jaka berada pada posisi yang berbeda dari mahasiswa Indonesia. Sesuatu yang terasa biasa bagi mahasiswa lokal—mendengar bahasa Indonesia di kelas—dapat menjadi pengalaman akademik yang sama sekali baru bagi Jaka.

Dari posisi itulah pertanyaan Jaka muncul.

Bagaimana bahasa Indonesia dipertahankan sebagai bahasa akademik? Bagaimana mahasiswa tetap mengembangkan kemampuan bahasa Inggris? Apakah penggunaan salah satu bahasa harus melemahkan bahasa lainnya?

Rancangan awal Jaka masih memuat wilayah yang luas. Bahasa pengantar, kemampuan berbahasa Inggris, dan daya saing lulusan dapat berkembang menjadi beberapa penelitian berbeda.

Namun, keluasan itu tidak segera dianggap sebagai kesalahan. Keluasan tersebut dibaca sebagai tanda bahwa Jaka telah menemukan medan yang menarik perhatian, meskipun Jaka belum menentukan bagian mana yang akan dimasuki lebih dalam.

Jaka mungkin kelak memilih membicarakan kebijakan bahasa. Jaka dapat pula memusatkan penelitian pada pengalaman mahasiswa, praktik pengajaran, atau pandangan lulusan tentang kebutuhan bahasa dalam lingkungan kerja regional.

See also  Dari Mencari Rima sampai Berani Membaca Puisi, Siswa Sendangharjo Menemukan Suara Mereka

Hari itu belum ada keputusan.

Yang ada baru sebuah persoalan yang mulai tampak bentuknya.

Wuwuh Terlihat Tahu, tetapi Tetap Bertanya

Di hadapan Jaka dan Iman, Wuwuh tampak menguasai banyak hal. Wuwuh cukup lancar mengikuti percakapan, menjelaskan informasi, dan menghubungkan pertanyaan Jaka dan Iman dengan struktur Program Magister Linguistik Terapan.

Namun, apa yang terlihat di dalam ruangan hanya satu bagian dari proses.

Wuwuh juga banyak berbagi dengan Fachri mengenai Jaka dan Iman. Wuwuh menceritakan minat keduanya, membicarakan kemungkinan arah penelitian, lalu mendengarkan cara Fachri membaca persoalan tersebut.

Karena itu, penjelasan yang kemudian disampaikan Wuwuh tidak seluruhnya lahir dalam satu pertemuan. Ada percakapan lain di belakangnya. Ada gagasan yang sempat diperiksa, diingatkan, atau dilengkapi.

Jaka dan Iman mungkin mengenal Wuwuh sebagai orang yang mendampingi percakapan hari itu. Namun, Jaka dan Iman tidak selalu melihat bagaimana Wuwuh masih berdiskusi dengan Fachri.

Justru bagian yang tidak terlihat itulah yang menjelaskan cara Program Santri berjalan.

Wuwuh dapat menjadi tempat bertanya tanpa harus menganggap diri sebagai pemilik jawaban. Wuwuh menyampaikan hal yang dipahami, lalu membawa bagian yang belum jelas kepada Fachri atau orang lain.

Belajar bergerak melalui hubungan semacam itu.

Pesantren yang Tumbuh dari Kebiasaan Berbagi

Program Pesantren Prodi S2–S3 Linguistik Terapan UNJ tidak berdiri seperti mata kuliah dengan jadwal, bahan ajar, dan pembagian peran yang kaku.

Program ini lebih dekat dengan kebiasaan berbagi di ruang program studi.

Mahasiswa dapat datang membawa kebingungan tentang kurikulum, topik penelitian, metodologi, bahasa, atau kehidupan kampus. Orang yang kebetulan memahami satu bagian membantu menjelaskannya. Ketika pembicaraan memasuki wilayah lain, orang lain ikut melengkapi.

Prof. Endry membuka ruangnya. Wuwuh membantu komunikasi berjalan. Fachri tetap terhubung melalui percakapan di luar pertemuan. Satya hadir karena cukup dekat dengan kehidupan kampus. Reni dan Anim ikut menyimak sekaligus membuat suasana tidak terjebak dalam ketegangan akademik.

Jaka dan Iman pun tidak hanya menjadi penerima penjelasan. Jaka dan Iman membawa pengalaman dari Tanzania, pandangan tentang pendidikan bahasa, dan cara melihat Indonesia dari posisi yang tidak dimiliki mahasiswa lokal.

Dengan demikian, siapa sebenarnya yang sedang belajar?

Pertanyaan itu sulit dijawab dengan menunjuk satu orang.

Iman belajar mengenali kemungkinan penelitian. Jaka belajar membaca lingkungan akademik Indonesia. Wuwuh belajar menyampaikan gagasan dalam konteks lintas bahasa. Fachri ikut membaca kemungkinan topik melalui percakapan dengan Wuwuh. Reni dan Anim melihat program studi melalui pertanyaan dua mahasiswa baru.

Yang sedang bekerja di sini bukan sekadar pendampingan mahasiswa asing. Pertemuan itu membuat setiap orang menyadari bahwa pengetahuan yang dianggap sudah biasa dapat terlihat berbeda ketika dibaca dari pengalaman orang lain.

See also  Ketika Cerita Ayam Menguji IPOP di Ruang Sidang Fachri Helmanto

Menjaga Gagasan agar Tidak Tergesa Menjadi Judul

Jaka dan Iman telah memiliki preferensi topik. Bahkan, Jaka dan Iman telah membawa rumusan judul awal.

Namun, program studi tidak perlu tergesa-gesa mengubah rumusan itu menjadi keputusan tetap.

Judul tesis bukan janji yang harus dipertahankan sejak hari pertama. Judul merupakan bentuk sementara dari pertanyaan yang masih tumbuh.

Iman masih perlu mengenali sekolah, guru, dan praktik pembelajaran bahasa Inggris di Jakarta. Jaka masih perlu memahami penggunaan bahasa pengantar dalam perguruan tinggi Indonesia serta menentukan hubungan mana yang benar-benar ingin diteliti.

Jaka dan Iman perlu membaca, mengikuti perkuliahan, berbicara dengan dosen, dan menemukan kemungkinan data.

Pendampingan yang menjaga integritas tidak mengambil alih proses itu. Pendampingan tidak membuat mahasiswa menerima topik hanya karena dianggap sesuai oleh orang lain. Pendampingan membantu mahasiswa memeriksa apakah topik tersebut benar-benar lahir dari persoalan yang ingin dipahami.

Karena itu, pertemuan hari itu tidak menghasilkan judul final.

Pertemuan tersebut menghasilkan sesuatu yang lebih awal, tetapi tidak kalah penting: keberanian untuk mengucapkan gagasan sebelum gagasan itu sempurna.

Mahasiswa Lain Bisa Ikut Masuk

Program Santri tidak harus menjadi lingkaran tertutup bagi mahasiswa yang sudah lama mengenal Prof. Endry atau sering berada di sekitar ruang program studi.

Mahasiswa lain dapat ikut bergabung.

Mahasiswa tidak harus datang sebagai orang yang siap memberi penjelasan. Membawa pertanyaan pun sudah cukup. Rancangan penelitian yang masih berantakan, kesulitan membaca teori, pengalaman mengajar, atau persoalan adaptasi dapat menjadi awal percakapan.

Di ruang seperti itu, berbagi tidak berarti saling menggurui.

Seseorang mungkin lebih memahami metodologi. Orang lain memiliki pengalaman lapangan. Ada yang lebih leluasa berbahasa Inggris, bahasa Indonesia, atau bahasa asing lainnya. Ada pula yang hanya mampu melihat satu bagian yang terlewat oleh peserta lain.

Setiap orang tidak harus menjadi lengkap sebelum masuk ke dalam percakapan. Setiap orang justru masuk karena menyadari bahwa pengetahuan masing-masing belum lengkap.

Jaka dan Iman belum memulai kuliah. Jaka dan Iman juga belum memiliki judul tesis yang final. Namun, sebelum semester pertama dibuka, Jaka dan Iman telah menemukan bahwa kampus bukan hanya kumpulan mata kuliah dan ruang kelas.

Ada orang-orang yang dapat diajak memikirkan pertanyaan.

Barangkali, itulah bentuk awal dari pesantren yang dimaksud Prof. Endry: ruang tempat seseorang datang bukan untuk terlihat paling tahu, melainkan agar tidak harus bertumbuh sendirian. (Arif)