Jepin Lembut Menambah Warna Belajar di Sanggar Sunda Kancana

BOGOR — Lissa Maharani, S.Pd., M.Pd. datang bersama tim Program Studi Pendidikan Tari, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta ke Sanggar Sunda Kancana, Kabupaten Bogor, pada 21 Juni 2026. Di hadapan 11 pelatih sanggar, Lissa membawa materi Tari Melayu dengan ragam gerak Jepin Lembut sebagai bagian utama pelatihan. Para peserta mengikuti penjelasan budaya Melayu, demonstrasi, diskusi, praktik gerak, dan pendampingan secara langsung. Setiap materi kemudian dihubungkan dengan cara mengajarkannya kembali kepada peserta didik. Pelatihan ini menjadi bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang disusun berdasarkan kebutuhan sanggar.

Sanggar Sunda Kancana selama ini aktif membina berbagai kegiatan seni tari. Para pelatih ingin memperluas repertoar agar peserta didik dapat mengenal lebih banyak bentuk tari Nusantara. Dari kebutuhan tersebut, tim UNJ menghadirkan Jepin Lembut sebagai materi yang dapat dipelajari, dikembangkan, dan diteruskan dalam kegiatan rutin sanggar. Geraknya membawa karakter Tari Melayu melalui langkah, irama, sikap tubuh, dan keluwesan. Materi baru itu kemudian masuk ke ruang belajar yang sudah akrab dengan latihan, pengulangan, dan kebersamaan.

“Saya merasa sangat bersyukur dapat berbagi ilmu bersama Sanggar Sunda Kancana. Bagi kami, pengabdian bukan sekadar menyampaikan materi pelatihan, tetapi juga menghadirkan pembelajaran yang benar-benar dibutuhkan oleh mitra,” ujar Lissa.

Jepin Lembut dalam Gerak yang Dekat

Jepin berkembang dalam tradisi Tari Melayu dan dikenal melalui hubungan yang kuat antara langkah dengan irama musik. Dalam pelatihan ini, peserta mempelajari ragam Jepin Lembut melalui gerak yang tersusun, mengalir, dan membutuhkan ketepatan tempo. Setiap langkah diikuti pengaturan arah tubuh dan kualitas gerak agar karakter tari tetap terbaca. Keluwesan hadir bersama disiplin pada hitungan dan pola. Bagi para pelatih, perpaduan itu menjadi bekal untuk mengenalkan tari Melayu secara utuh kepada anak-anak.

See also  UNJ Tingkatkan Kompetensi Guru Seni Budaya Pulau Tidung melalui Pelatihan Penciptaan Tari

Selama praktik, peserta memperhatikan contoh gerak, mencobanya bersama, lalu mengulang bagian yang masih perlu dirapikan. Diskusi berlangsung di sela latihan sehingga pertanyaan dapat langsung dijawab melalui tubuh. Detail posisi kaki, arah tangan, dan hubungan dengan irama diperiksa sedikit demi sedikit. Pengulangan membantu peserta menangkap rasa gerak sekaligus urutannya. Suasana belajar pun bergerak melalui percakapan dan pengalaman langsung.

Para peserta memperoleh pengalaman baru dalam membaca hubungan antara langkah, irama, dan keluwesan tubuh. Gerak yang terlihat ringan tetap membutuhkan perhatian pada detail. Ketika satu bagian dimainkan bersama, peserta perlu menjaga tempo sekaligus menyesuaikan posisi dengan kelompok. Dari situ, latihan terasa menantang dan menyenangkan dalam waktu yang sama. Pengalaman tersebut membuat materi lebih mudah dibawa kembali ke lingkungan sanggar.

Lissa Membawa Materi yang Akan Terus Dipakai

Bagi Lissa, keberlanjutan menjadi bagian penting dari pelatihan. Materi yang dipelajari pada hari kegiatan akan kembali hidup ketika para pelatih mengajarkannya kepada peserta didik. Karena itu, penyampaian materi mencakup gerak, latar budaya, filosofi, dan strategi pembelajaran. Para pelatih memperoleh ruang untuk memahami materi sebelum meneruskannya. Jepin Lembut pun dipersiapkan sebagai bagian dari perjalanan belajar yang lebih panjang.

Lissa juga melihat sanggar sebagai tempat generasi muda mengenali budaya melalui pengalaman tubuh. Anak-anak belajar langkah dan irama sambil memahami bahwa setiap tari tumbuh dari lingkungan budaya tertentu. Tari Melayu membawa sejarah, nilai, dan cara masyarakat mengekspresikan kehidupan. Ketika pengetahuan itu masuk ke ruang latihan, budaya hadir melalui gerak yang dilakukan berulang. Dari proses tersebut, rasa bangga dapat tumbuh bersama keterampilan.

Imas Menjadikannya Bagian dari Identitas Sanggar

Ketua Sanggar Sunda Kancana, Imas Erni Rusmini, menyambut materi pelatihan karena sesuai dengan kebutuhan sanggar. Jepin Lembut akan dimasukkan ke dalam tahapan perkembangan belajar peserta didik. Materi tersebut menjadi salah satu penanda bahwa seorang peserta telah menambah keterampilan dan repertoar baru. Bagi sanggar, bertambahnya materi juga memperluas identitas pembelajaran. Anak-anak memperoleh kesempatan mengenal kekayaan budaya Indonesia melalui ragam tari yang semakin beragam.

See also  Belajar Kendang Sunda dari Bunyi, Gerak, dan Notasi

“Materi yang kami pelajari hari ini akan kami tetapkan sebagai salah satu materi kenaikan kelas di Sanggar Sunda Kancana. Kami berharap peserta didik memiliki kemampuan menari sekaligus tumbuh rasa bangga dan cinta terhadap kekayaan budaya Indonesia,” ungkap Imas.

Dalam keseharian sanggar, kenaikan kelas menjadi jejak perjalanan belajar. Anak-anak melewati satu tahap latihan, menguasai materi, lalu bergerak menuju pengalaman berikutnya. Jepin Lembut akan berada dalam alur itu bersama materi tari yang sudah lebih dahulu diajarkan. Setiap repertoar membawa rasa gerak dan cerita budaya yang berbeda. Dari sana, peserta didik membangun pengalaman tubuh yang semakin kaya.

Tim Dosen Membaca Respons Peserta

Selain Lissa, kegiatan ini melibatkan Selly Oktarini, S.Pd., M.Sn. dan Ni Ketut Santi Sukma Melati, S.Sn., M.Sn. sebagai anggota tim dosen. Henny Aurellia dan Dhini Amanda Mufiidah turut terlibat sebagai mahasiswa, sedangkan Meta Mouli Karuana, A.Md.Par. membantu persiapan, pendampingan praktik, dan dokumentasi. Keterlibatan tim membuat proses pelatihan dapat berjalan dari penyampaian materi hingga pemeriksaan detail gerak. Setiap anggota mengambil bagian sesuai kebutuhan selama kegiatan.

Dari sisi tim dosen, praktik langsung memberi kesempatan untuk melihat cara materi diterima para pelatih. Respons peserta selama demonstrasi membantu tim menyesuaikan kecepatan penyampaian dan bentuk pendampingan. Beberapa gerak membutuhkan contoh berulang agar arah tubuh dan ritmenya terasa tepat. Percakapan dengan peserta juga membuka gambaran mengenai cara materi kelak digunakan bersama anak-anak. Proses itu membuat pelatihan berkembang sesuai situasi di ruang sanggar.

Pertemuan dosen, mahasiswa, dan pelatih menciptakan alur belajar yang saling terhubung. Tim UNJ membawa materi dan rancangan kegiatan, sementara pelatih sanggar membawa pengalaman menghadapi peserta didik setiap pekan. Pengetahuan akademik bertemu dengan kebiasaan belajar yang sudah hidup di komunitas. Setiap koreksi gerak segera diuji melalui praktik. Dari pertemuan tersebut, Jepin Lembut memperoleh bentuk yang lebih siap untuk diteruskan.

Warna Baru untuk Perjalanan Belajar

Jepin Lembut kini menjadi bagian baru dalam perjalanan Sanggar Sunda Kancana. Para pelatih telah mengenali gerak, karakter, dan latar budayanya. Tahap berikutnya berlangsung ketika materi itu masuk ke latihan rutin bersama peserta didik. Anak-anak akan berjumpa dengan langkah, irama, dan rasa gerak Melayu melalui tubuh mereka sendiri. Satu materi pelatihan pun tumbuh menjadi pengalaman yang akan terus berulang.

See also  Universitas Republik Indonesia Mulai Menyiapkan Calon Pemimpin Negara

Bagi Lissa dan tim, kegiatan ini memperlihatkan bagaimana pengetahuan memperoleh kehidupan ketika digunakan kembali oleh mitra. Bagi Imas, Jepin Lembut memperkuat identitas sanggar sebagai ruang belajar seni Nusantara. Bagi para peserta, latihan memberi bekal baru untuk mengembangkan materi bersama anak-anak. Setiap pihak membawa peran yang berbeda dalam alur tersebut. Dari ruang latihan di Bogor, Jepin Lembut mulai menambah warna dalam cara Sanggar Sunda Kancana belajar, bergerak, dan mengenalkan budaya kepada generasi berikutnya. (Deden Haerudin)