Pelatih Sucitta Art Belajar Tari Bali, Detail Kecil Ternyata Bikin Gerak Berbeda

DEPOK — Para pelatih Sanggar Tari Sucitta Art belajar teknik dasar Tari Bali Putri bersama Ni Ketut Santi Sukma Melati, S.Sn., M.Sn. di Depok, 3 Mei 2026. Selama sekitar empat jam pelajaran, mereka menyimak penjelasan, melihat contoh gerak, lalu langsung mencobanya. Latihan bergerak dari sikap tubuh, posisi tangan, arah pandangan, hingga pengaturan tenaga. Setiap detail diperiksa karena perubahan kecil dapat membuat karakter gerak terasa berbeda. Tari Condong dipakai pada bagian akhir untuk menyatukan teknik yang sudah dipelajari dalam satu rangkaian tari.

Sanggar Tari Sucitta Art berdiri sejak 25 April 2018 dan berkembang dari perkumpulan seniman menjadi komunitas tari yang membuka kelas rutin bagi anak-anak dan orang dewasa. Semakin banyak peserta yang datang, semakin beragam pula materi yang perlu dikuasai para pelatih. Tari Bali kemudian dipilih untuk memperkaya pembelajaran tari daerah di sanggar. Sebelumnya, para pelatih lebih sering mempelajari tekniknya melalui video daring dan bahan tertulis. Pelatihan langsung memberi kesempatan untuk melihat bentuk gerak dari dekat sekaligus menerima koreksi saat tubuh sedang bergerak.

Geraknya Kelihatan Simpel, Praktiknya Penuh Detail

Dari layar, sebuah gerak mungkin terlihat mudah untuk ditiru. Saat dicoba, tangan, kepala, mata, kaki, dan tenaga ternyata harus bekerja dalam hubungan yang rapat. Arah pandangan perlu mengikuti karakter gerak, posisi jari harus terbaca jelas, dan sikap tubuh tetap terjaga sepanjang rangkaian. Para peserta pun mengulang satu bagian beberapa kali sampai bentuknya terasa semakin pas. Koreksi kecil pada tangan atau kepala langsung memperlihatkan perubahan pada keseluruhan gerak.

Pelatihan dimulai dengan pengenalan teknik dasar Tari Bali Putri secara teoritis. Penjelasan itu membantu peserta memahami istilah, fungsi gerak, serta karakter budaya yang menyertainya. Ni Ketut lalu memperagakan materi secara bertahap agar setiap detail mudah diamati. Para pelatih mengikuti contoh, memeriksa posisi tubuh, kemudian mencoba kembali setelah menerima arahan. Pola melihat, mencoba, memperbaiki, dan mengulang membuat materi lebih mudah tersimpan dalam tubuh.

See also  UNJ Tingkatkan Kompetensi Guru Seni Budaya Pulau Tidung melalui Pelatihan Penciptaan Tari

Para peserta juga membawa pengalaman sebagai pelatih, sehingga perhatian mereka bergerak pada dua hal sekaligus. Mereka perlu menguasai teknik untuk diri sendiri sekaligus membayangkan cara menyampaikannya kepada murid. Gerak yang cukup rumit perlu dipecah menjadi tahapan yang mudah diikuti anak-anak maupun peserta dewasa. Tempo, pilihan kata, demonstrasi, dan bentuk koreksi ikut menjadi bagian dari latihan. Bekal tersebut membuat materi Tari Bali lebih siap dibawa ke kelas rutin Sanggar Sucitta Art.

Tari Condong Jadi Penutup Latihan

Tari Condong menjadi bagian penerapan pada penghujung kegiatan. Teknik yang sebelumnya dipelajari satu per satu mulai dirangkai melalui sikap tubuh, gerak tangan, perpindahan, tenaga, dan tatapan. Para pelatih dapat merasakan bagian yang sudah menyatu serta bagian yang masih membutuhkan pengulangan. Latihan bersama juga membantu peserta menjaga tempo dan arah gerak dalam kelompok. Dari Tari Condong, teknik dasar mulai terlihat sebagai satu kesatuan yang hidup.

Materi tersebut sekaligus memberi gambaran awal tentang cara Tari Bali dapat masuk ke pembelajaran sanggar. Pelatih bisa memulai dari sikap dasar, melanjutkan pada koordinasi anggota tubuh, lalu membawa peserta didik menuju rangkaian tari. Setiap tahap dapat disesuaikan dengan usia dan kemampuan kelas. Anak-anak mendapat waktu untuk mengenali karakter gerak sebelum mempelajari repertoar secara utuh. Alur semacam ini membuat pembelajaran terasa lebih terarah dan mudah diikuti.

Ada E-Book untuk Lanjut Belajar

Tim pelaksana menyiapkan E-Book Reference sebagai bahan pendamping setelah lokakarya selesai. Isinya memuat materi yang sudah dipraktikkan dan dapat dibuka kembali ketika para pelatih menyiapkan kelas. Bahan digital itu membantu mengingat prinsip gerak, urutan latihan, serta detail yang memerlukan perhatian. Sanggar juga memperoleh tambahan sumber untuk mengembangkan pembelajaran tari daerah. Pengalaman praktik tetap menjadi pijakan, sedangkan e-book membantu menjaga materi tetap mudah diakses.

See also  Belajar Kendang Sunda dari Bunyi, Gerak, dan Notasi

Program pengabdian ini berjalan melalui lima tahap, yaitu sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan dan evaluasi, serta keberlanjutan program. Setiap tahap disusun agar materi terus bergerak setelah pertemuan di Depok selesai. Sosialisasi memberi dasar pengetahuan, pelatihan membawa peserta ke praktik, dan teknologi hadir melalui bahan ajar digital. Pendampingan serta evaluasi membantu memeriksa perkembangan pemahaman para pelatih. Tahap berikutnya berlangsung ketika materi mulai digunakan dalam kehidupan belajar Sanggar Tari Sucitta Art.

Sulistiani selaku ketua Sanggar Tari Sucitta Art menjadi mitra dalam kegiatan ini. Sanggar menyediakan ruang latihan sekaligus menjadi tempat materi Tari Bali diteruskan kepada peserta didik. Para pelatih membawa pulang pengalaman belajar langsung, koreksi teknik, Tari Condong, dan bahan ajar digital. Bekal itu akan kembali muncul saat mereka berdiri di depan kelas dan memberi contoh kepada murid. Dari satu lokakarya, teknik dasar Tari Bali mulai menjadi bagian baru dalam perjalanan belajar Sucitta Art. (Deden Haerudin)