Dari Gedung Bung Hatta, Dr. Lee Ju Seong Mengajak Melihat Cara Baru Gen Z Belajar Bahasa

Senin pagi, 10 Agustus 2026, lantai lima Gedung Bung Hatta UNJ mulai dipenuhi peserta Visiting Program 2026. Acara dimulai pukul 09.00 WIB dengan menghadirkan Dr. Lee Ju Seong dari The Education University of Hong Kong. Tema yang dibawanya terasa dekat dengan keseharian mahasiswa saat ini. Belajar bahasa Inggris ternyata bisa berlangsung ketika seseorang membuka media sosial, menonton video, bermain gim, masuk ke komunitas daring, atau berbicara dengan AI. Pengalaman seperti itulah yang menjadi salah satu pusat perhatian dalam kajian Informal Digital Learning of English atau IDLE.

Program ini diprakarsai Pusat Kerja Sama dan Internasionalisasi Sekolah Pascasarjana UNJ yang dipimpin Prof. Dr. Setia Budi, M.Sc., lalu diselenggarakan bersama Program Magister dan Doktor Linguistik Terapan UNJ. Kedua program itu berada di bawah koordinasi Prof. Dr. Endry Boeriswati, M.Pd. Kehadiran Dr. Lee membuat agenda internasionalisasi pagi itu langsung bertemu dengan wilayah kajian Linguistik Terapan yang sedang bergerak cepat. Bahasa kini hidup di lebih banyak ruang. Percakapan berlangsung di kelas, di media sosial, di platform digital, dan semakin sering di ruang interaksi manusia dengan AI.

Setelah sambutan Direktur Sekolah Pascasarjana UNJ Prof. Dr. Dedi Purwana, M.Bus., Prof. Dr. Ifan Iskandar, M.Hum. memberikan pengantar mengenai ecolinguistics. Prof. Ifan merupakan dosen Linguistik Terapan UNJ yang kini menjabat Wakil Rektor I UNJ. Ia memulai dari tradisi Haugenian, lalu bergerak ke Hallidayan. Pada bagian Haugenian, bahasa dibicarakan melalui hubungannya dengan lingkungan tempat bahasa itu digunakan dan dipertahankan. Pembahasan kemudian beralih pada Halliday, yang memberi perhatian pada bahasa sebagai pembentuk makna. Dua fondasi itu menjadi pembuka yang pas sebelum diskusi bergerak ke lingkungan bahasa yang sangat akrab bagi generasi hari ini, yaitu dunia digital.

See also  Di Sela Mengurus Perkuliahan, Mas Lalu Meraih Gelar S.H.

Giliran Dr. Lee tampil, layar presentasi mulai menampilkan istilah AI-mediated IDLE. Ia menjelaskan bahwa pembelajaran bahasa Inggris informal memiliki tiga ciri utama. Aktivitasnya dimulai oleh pembelajar sendiri, berlangsung melalui teknologi digital, dan terjadi di luar kelas formal. Penekanannya terasa sederhana, tetapi dekat dengan pengalaman sehari-hari. Seseorang bisa belajar karena tertarik pada konten tertentu, karena ingin memahami percakapan dalam gim, karena mengikuti akun berbahasa Inggris, atau karena mencoba berbicara dengan AI. Proses belajar muncul dari aktivitas yang memang sudah mereka lakukan.

Di bagian ini, IDLE menjadi mudah dibayangkan. Belajar tidak selalu dimulai dari instruksi guru. Kadang seseorang membuka video karena penasaran, lalu menemukan kosakata baru. Kadang percakapan di ruang digital membuat pembelajar mencoba struktur bahasa yang belum pernah digunakan sebelumnya. Kadang AI menjadi lawan bicara yang tersedia setiap saat. Dr. Lee melihat ruang informal semacam ini sebagai bagian penting dari pengalaman belajar bahasa, terutama ketika teknologi sudah melekat pada kehidupan sehari-hari.

Hal yang kemudian terasa paling menarik adalah perhatiannya pada kondisi post-AI. Pembicaraan tidak berhenti pada pertanyaan apakah AI berguna untuk belajar bahasa. AI sudah hadir dan digunakan. Karena itu, pertanyaan yang lebih relevan mulai bergeser pada bagaimana pembelajar berinteraksi dengan AI, bagaimana pengalaman berbahasa berubah, dan bagaimana pendidikan merespons kebiasaan baru tersebut. Di titik ini, paparan Dr. Lee terasa dekat dengan Gen Z yang hidup dengan banyak platform sekaligus. AI bukan lagi sesuatu yang jauh dari rutinitas belajar mereka.

Bagi Linguistik Terapan UNJ, tema tersebut membuka ruang kajian yang luas. Di bawah koordinasi Prof. Endry Boeriswati, Program Magister dan Doktor Linguistik Terapan berada pada posisi yang langsung bersentuhan dengan perubahan semacam ini. Bahasa dapat dikaji melalui praktik pembelajaran, penggunaan teknologi, interaksi digital, sampai perubahan cara manusia membentuk dan memahami makna. Visiting Program 2026 membuat wilayah-wilayah itu hadir dalam satu ruang, melalui pertemuan antara mahasiswa, dosen, dan akademisi internasional yang meneliti persoalan serupa.

See also  Di Linguistik Terapan UNJ, Riset Mahasiswa Tidak Harus Berhenti di Soal Bahasa

Sampai menjelang siang, alur diskusi terasa bergerak semakin dekat dengan kehidupan peserta. Dari Haugenian dan Hallidayan, pembicaraan masuk ke media sosial, platform digital, lalu AI. Benang merahnya tetap bahasa dan lingkungan tempat bahasa itu hidup. Bedanya, lingkungan itu sekarang ikut berpindah ke layar yang dibawa manusia ke mana-mana. Di sanalah pembelajaran bahasa terus berlangsung, kadang tanpa jadwal, tanpa ruang kelas, bahkan tanpa disadari sebagai proses belajar.

Visiting Program 2026 dijadwalkan berakhir pukul 12.00 WIB. Namun sejak sesi awal, satu hal sudah terasa jelas. Pembelajaran bahasa sedang mengalami perubahan besar seiring perubahan lingkungan digital. Bagi generasi yang tumbuh bersama internet dan AI, belajar bahasa bisa dimulai dari hal yang sangat biasa, dari menonton, bermain, membaca, mengobrol, lalu mencoba memahami dunia melalui bahasa yang mereka temui setiap hari.