Dari Mencari Rima sampai Berani Membaca Puisi, Siswa Sendangharjo Menemukan Suara Mereka

Pantun dan puisi membawa siswa kelas V UPT SDN Sendangharjo IV Tuban bermain dengan kata, imajinasi, dan keberanian. Karya yang bermula dari lembar kosong kemudian tumbuh menjadi bait, dibacakan di depan kelas, dikumpulkan menjadi buku sederhana, dan mendapat tempat di mading sekolah. Prosesnya membuat kegiatan literasi terasa dekat karena siswa mengalami sendiri bagaimana sebuah gagasan berubah menjadi tulisan. Mereka mencari kata, menimbang bunyi, memilih diksi, dan mengatur susunan bait sampai karya terasa selesai. Dari sana, menulis bergerak dari tugas sekolah menjadi pengalaman yang punya suara dan pembaca.

SENDANGHARJO — Pagi 25 Mei 2026 di kelas VA UPT SDN Sendangharjo IV Tuban dimulai dengan pertanyaan yang tampak sederhana. Kata apa yang cocok diletakkan setelah kata ini, bagaimana membuat bunyinya bertemu di akhir baris, dan apa yang ingin diceritakan ketika tema nasionalisme diberikan kepada siswa. Anak-anak dari kelas VA dan VB kemudian mulai menulis, mencoret, mengganti kata, dan membaca ulang kalimat yang baru mereka susun. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang melibatkan Sumadi, Rohmat Fajar Shofarin, Renis Suryaningrum, Rissaatul Aisah, Rofifah Nindya Mahalli, Rohmatus Sholiha Septiana, dan Shobihatul Mubarokah dari Universitas PGRI Ronggolawe Tuban. Tim membawa pembelajaran pantun dan puisi ke dalam suasana yang lebih partisipatif melalui penjelasan, permainan kata, pengamatan lingkungan, praktik menulis, pendampingan, dan pembacaan karya.

Ketika Kata Harus Bertemu Kata

Pantun membawa siswa berhadapan dengan aturan yang membuat setiap pilihan kata terasa penting. Ada sampiran dan isi, ada susunan baris, dan ada rima yang membuat bunyi di ujung kalimat perlu saling berhubungan. Satu kata yang terasa bagus belum tentu cocok ketika ditempatkan di akhir baris, sementara kata yang rimanya pas belum tentu membawa makna yang diinginkan. Proses mencari pasangan kata kemudian menjadi latihan kecil untuk mendengar bahasa dengan lebih teliti. Pantun sendiri memiliki perjalanan panjang sebagai tradisi tutur di kawasan Melayu dan telah digunakan selama berabad-abad untuk menyampaikan nasihat, perasaan, humor, serta pandangan tentang kehidupan. Ketika siswa Sendangharjo mencoba menyusun pantun mereka sendiri, mereka sedang masuk ke bentuk sastra yang bertahan karena terus digunakan dan diwariskan dari generasi ke generasi.

See also  Pelatih Sucitta Art Belajar Tari Bali, Detail Kecil Ternyata Bikin Gerak Berbeda

Puisi memberi ruang yang lebih longgar, tetapi kebebasan itu membawa tantangan lain. Siswa perlu menentukan apa yang hendak mereka katakan, memilih kata yang terasa tepat, lalu menyusunnya menjadi bait yang mampu membawa suasana atau gagasan. Tema nasionalisme menjadi titik awal, sementara pengalaman pribadi, lingkungan, dan imajinasi memberi bahan untuk dikembangkan. Tim pengabdian mendampingi siswa yang masih kesulitan mencari ide, memilih diksi, atau menyusun bait sehingga proses menulis dapat berlangsung bertahap. Dalam kegiatan tersebut, menulis tidak hadir sebagai pekerjaan yang langsung jadi, melainkan sebagai rangkaian percobaan kecil yang melibatkan membaca ulang dan memperbaiki. Lembar yang semula kosong perlahan berubah menjadi tempat anak-anak menaruh gagasan yang sebelumnya hanya tersimpan di kepala.

Saat Tulisan Keluar dari Meja

Pengalaman menulis kemudian bergerak ke tahap yang berbeda ketika sebagian siswa mendapat kesempatan membacakan karya di depan kelas. Pantun dan puisi yang sebelumnya hanya berada di atas kertas berubah menjadi suara yang didengar teman-teman mereka. Berdiri di depan kelas membuat siswa perlu menghadapi rasa gugup, mengatur volume suara, dan menjaga urutan baris yang telah ditulis. Di titik ini, keberanian menjadi bagian dari literasi karena sebuah karya akhirnya bertemu dengan pendengar. Tim juga memberikan penghargaan kepada sepuluh karya terbaik berupa alat tulis dan makanan ringan, sementara tiga siswa mendapat kesempatan mempresentasikan hasil tulisannya. Penghargaan tersebut memberi ruang apresiasi, tetapi momen ketika siswa berani membacakan karya mereka sendiri menjadi bagian yang paling nyata dari proses tumbuhnya rasa percaya diri.

Pantun dan puisi juga mulai terasa berbeda ketika keluar dari kerangka tugas pelajaran. Siswa tidak berhenti pada menghafal ciri-ciri pantun atau mengenali unsur puisi, tetapi mencoba membuat struktur itu bekerja melalui karya mereka sendiri. Sampiran harus ditemukan, isi harus membawa maksud, rima perlu terdengar selaras, dan pilihan kata dalam puisi perlu mampu membawa suasana. Proses ini membuat teori sastra berubah menjadi pengalaman yang dapat dirasakan langsung. Anak mengetahui bahwa satu bait membutuhkan keputusan, dan keputusan itu sering muncul setelah beberapa kali mencoba. Dari sana, bahasa terasa lebih hidup karena setiap kata punya fungsi dan akibat terhadap keseluruhan karya.

See also  Ketika 202 Anak Mewarnai Kemerdekaan di Purbalingga

Dari Lembar Kerja Menuju Mading

Perjalanan karya siswa berlanjut setelah kegiatan di kelas selesai. Pantun dan puisi yang telah dibuat dikumpulkan untuk didokumentasikan, kemudian direncanakan dalam bentuk buku sederhana, sementara karya pilihan ditempatkan di mading sekolah. Perpindahan dari lembar kerja ke ruang publik sekolah memberi pengalaman yang berbeda karena karya memiliki kemungkinan dibaca oleh orang lain. Teman dari kelas lain dapat berhenti di depan mading, guru dapat melihat tulisan siswa, dan penulisnya sendiri dapat kembali menemukan namanya beberapa hari kemudian. Tulisan akhirnya tidak lagi selesai ketika tugas diserahkan, sebab karya masih memiliki kehidupan setelah proses penilaian berakhir. Praktik semacam ini membuat budaya literasi bergerak ke arah yang lebih produktif karena siswa belajar menulis untuk dibaca, bukan hanya menulis untuk menyelesaikan kewajiban.

Gerakan Literasi Sekolah sering dikenal melalui kebiasaan membaca, tetapi menulis memberi dimensi lain karena siswa harus menghasilkan sesuatu dari apa yang mereka pikirkan dan rasakan. Di Sendangharjo, bagian produktif itu muncul melalui pantun dan puisi. Anak-anak membaca contoh, mengenali struktur, mengamati lingkungan, memilih kata, menulis, lalu membagikan karya kepada orang lain. Siklus tersebut membuat literasi hadir sebagai aktivitas yang saling terhubung antara membaca, berpikir, menulis, dan berbicara. Guru kelas memberikan respons positif terhadap kegiatan dan melihat pelatihan semacam ini sebagai cara yang dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan berbahasa, kreativitas, serta daya imajinasi. Catatan kegiatan juga menunjukkan bahwa seluruh siswa yang mengikuti pelatihan mampu menyelesaikan karya sesuai tema yang diberikan.

Pada akhirnya, perjalanan yang paling menarik berasal dari perubahan sebuah lembar kosong menjadi sesuatu yang punya suara. Anak memulai dari satu kata, lalu menambahkan kata berikutnya sampai sebuah baris terbentuk. Beberapa bagian harus diganti, beberapa bunyi perlu dicari ulang, dan beberapa gagasan baru muncul ketika proses menulis sudah berjalan. Setelah itu karya dibaca di depan kelas, dikumpulkan, lalu dipindahkan ke buku dan mading sekolah. Sumadi, Rohmat Fajar Shofarin, Renis Suryaningrum, Rissaatul Aisah, Rofifah Nindya Mahalli, Rohmatus Sholiha Septiana, dan Shobihatul Mubarokah mendokumentasikan proses tersebut sebagai upaya menumbuhkan imajinasi dan literasi menulis siswa UPT SDN Sendangharjo IV Tuban. Dari satu pagi di kelas, pantun dan puisi menjadi cara bagi anak-anak untuk menemukan bahwa gagasan mereka dapat berubah menjadi kata, dan kata itu dapat sampai kepada orang lain.

See also  Universitas Republik Indonesia Mulai Menyiapkan Calon Pemimpin Negara